Perang Kota Antara Cinta Dan Pengkhianatan Di Tengah Kobaran Api Kemerdekaan

 

“Fatimah adalah sosok perempuan yang sangat kuat ya, meskipun Perang Kota ini latar belakangnya adalah Indonesia pascakemerdekaan di era kemerdekaan yang mungkin nggak ada satupun di antara kita yang merasakan bagaimana sesungguhnya hidup di era tersebut gitu, cuma aku rasa masih sangat amat relevan ketika kita coba tarik ke era saat ini,” kata Ariel saat konferensi pers pada Senin (21/4/2025).

 

Melalui karakter Fatimah, film ini tidak hanya menyuguhkan potret sejarah yang hidup, tetapi juga menghadirkan cermin bagi penonton masa kini tentang keteguhan, perjuangan, dan pergulatan batin yang bersifat universal, tak lekang oleh waktu dan tetap relevan hingga hari ini.

 

Ariel mengungkapkan ia merasa memiliki keterhubungan kuat dengan karakter Fatimah sejak membaca skenario. Dia pun percaya penonton akan merasakan perjuangan tokoh tersebut juga.

 

Sebelum syuting dimulai, dia bersama Chicco Jerikho dan Jerome Kurnia mengikuti workshop intensif hampir setiap hari selama enam sampai delapan jam untuk membangun kedekatan dan memperdalam hubungan antarkarakter.

 

Di bawah arahan sutradara visioner Mouly Surya, Perang Kota hadir dengan sentuhan artistik yang berbeda dari karya-karya Mouly sebelumnya.

 

Mouly mengungkapkan bahwa selama proses produksi, dirinya banyak melakukan eksperimen dan mengeksplorasi berbagai elemen sinematik untuk menghidupkan suasana Jakarta tahun 1946 secara autentik.

 

“Soal set produksi juga. Dengan gaya Jakarta 1946, saya mendesain kota secara spesifik memiliki gang-gang sempit. Ini menjadi seperti metafora bahwa guerilla fighting itu ada di Indonesia. Pertarungan dan peperangan tak terjadi hanya di jalan besar, tetapi juga di jalan-jalan kecil,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *