Sayangnya, dengan kondisi cuaca yang sangat tidak menentu saat ini dan wilayah yang kerap di guyur oleh air, Sarian selaku Ketua Poktan Margo Raharjo hanya bisa mengharapkan hasil terbaik pada pelaksanaan penanaman sorgum yang akan datang.
“Tapi itu tergantung cuaca juga, bahkan tidak cuaca saja, hama seperti tikus, burung juga jadi penyebab turunnya produksi sorgum itu nanti. Apa lagi cuaca sekarang yang membuat lahan jadi sangat basah,” kata Sarian dengan cemas.
Perihal pasca panen, Agus Susilo yang ialah PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) desa Raji juga memberikan beberapa penjelasan terkait kemana produksi sorgum ini akan dikirim setelah komoditas sorgum itu di panen nantinya. Ia (Agus Susilo) dan Sarian menjelaskan bahwa produk sorgum biasanya akan cepat terjual maupun habis di garap para pengepul, bahkan dengan kisaran harga yang tinggi daripada rata-rata yaitu sekitar Rp 10.000 per Kg. Sebagai informasi, Sarian mengatakan bahwa harga normal sorgum yang sudah di panen menyentuh harga kurang lebih Rp 6.000 per Kg.

Perlu diperhatikan, selain daripada kelebihan dan potensi sorgum yang tinggi di pasaran sebagai komoditas alternatif gandum, Sarian kerap menekankan kurangnya fasilitas untuk mengelolah sorgum yang telah di panen. Sarian mengaku kekurangan sarana untuk menghaluskan sorgum, sehingga pada saat ini beliau (Sarian) hanya mengandalkan alat seadanya untuk mengelola sorgum itu.
” Kita kekurangan alat untuk produksi sorgum lebih lanjut lagi, buat sekarang kita hanya punya alat seadanya untuk menghaluskan sorgum itu memakai alat kendaraan. Hasilnya juga tidak sebagus memakai mesin penghalus sorgum, masih ada sorgum yang tidak terolah semuanya dengan baik,” jelas Sarian.






