Penasehat Hukum Terdakwa Hadirkan Saksi A De Charge Kasus Pengerusakan Di Ulugalung Desa Lempa Kec.Pammana

  • Bagikan

PorosNusantara.co.id WAJO-SulSel || Masih ingatkah Kasus Pengerusakan di Laringgi Desa Lempa Kecamatan Pammana Kab. Wajo Provinsi Sulawesi Selatan, yang awalnya ditangani Polsek Pammana Polres Wajo Polda Sulsel, setelah kasusnya ditingkatkan ketahap Sidik ditangani reserse Unit Tahbang Polres Wajo, Senin tanggal, 4 Juli 2022 telah digelar Sidang Saksi A de Charge ( Saksi meringankan ) di Pengadilan Negeri Sengkang.

Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Andi Nur Haswah.SH, dengan Hakim Anggota Ahmadi Ali SH, dan Hakim Anggota Hj.Aisyia Adama.SH.MH, sedang Jaksa Penuntut Umum ( JPU ) Ardiansya.SH, dan Terdakwa Rs dan Id didampingi Penasehat Hukumnya Sudirman.SH.MH dan Wahyudin.SH, kemudian Saksi A de Charge Yang dihadirkan PH terdakwa Rs dan Id adalah Hj.Jusnawati Bin Tajuddin tak lain adalah Pemilik rumah makan Glory.

Dalam kesaksiannya pada persidangan tersebut, Saksi A de Charge Hj. Jusnawati, mengaku pernah di BAP Penyidik reserse Unit Tahbang Polres Wajo dalam Kasus Pengerusakan di Laringgi Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, dan di depan Majelis Hakim PN Sengkang dengan dengan tegas mengaku menyuruh terdakwa inisial Id menebanng Pohon Kelapa yang dilaporkan H. Agustan dengan alasan tanah tersebut miliknya karena dia beli sama Mappasongko tahun 2012 dengan total harga sebesar Rp.40 juta dan dibuktikan dengan Akte Jual Beli ( AJB ) tahun 2021.Dan alasan lain dari penebangan pohon kelapa adalah karena lahan tersebut akan di jadikan Tanah Kavling.

Namun setelah dicecar pertanyaan oleh Jaksa Penuntut Umum ( JPU ) Ardiansya.SH sepertinya kelabakan menjawab pertanyaan JPU, utamanya pertanyaan berkaitan Pembelian Tanah dan penanda tanganan AJB, awalnya mengatakan sudah meninggal Mappasongko baru dibeli tanah tersebut, kemudian ditanya lagi akhirnya mengakui kalau mappasongko masih hidup pada saat dibeli tanah itu karena tertera pada AJB Pihak Pertama Mappasongko dan Pihak Kedua Hj. Jusnawati, dan Saksi A de Charge juga mengaku kalau uang Rp. 40 juta diberikan Mappasongko dimakassar tunai sebesar Rp. 20 juta dan Amiri saudara Mappasongko tiga kali diberikan pernah diberikan dimakssar dan pernah juga diberikan di Sengkang katanya untuk dipakai berobat dengan total Rp. 20 juta juga diterima Amiri.

Setelah JPU menanyakan berapa bersaudara Mappasongko Saksi menjawab dua bersaudara, yakni Indo Songko dalam hal Mappasongko dan Ambo Amiri, setelah JPU bertanya kalau Mapparimeng siapa itu baru Saksi ingat kalau tiga bersaudara, setelah ditanya pernahkah melihat sertifikat a.n Baco Haming Saksi mengatakan tidak pernah sama sekali melihatnya, nanti saya ketahui setelah terproses Hukum kalau tanah tersebut ada sertifikatnya, ditanya Pembuatan AJB saksi dimana tanda tangan, apakah dikantor Desa, atau dibawakan dirumahnya atau ada kita kuasakan untuk mengurus AJB tersebut, Saksi tambah bingung pernah mengatakan dikantor Desa pernah juga mengatakan dibawakan.

Saksi A de Charge Hj. Jusnawati di depan Majelis Hakim bercerita kalau tanah itu dibeli dari Amiri hanya merupakan menolong saja karena Amiri Sakit sakitan dan mau menikahkan anaknya pada waktu itu, apalagi tanah tersebut hanya tanah pegunungan ( Bukit ) dan saya tiap tahun saya petik buah kelapa, setelah ditanya siapa tanam itu Kelapa Saksi tidak mengetahuinya begitu juga setelah diperlihatkan AJB yang dibeli terterah hanya tanah Kosong dan tidak ada nomor Sertipikat, beda dengan AJB H. Agustan berdasarkan Sertifikat Hak Milik No. 273 a.n Baco Haming, kemudian Saksi A de Charge Hj. Jusnawati mengaku kalau H. Agustan dua kali meminta mau beli tanah tersebut awalnya minta rp. 80 juta kedua kalinya istrinya datang dirumah minta Rp. 150 juta, tapi tidak bisa karena saya sudah sepakat dengan terdakwa Rs dengan harga Rp. 200 juta namun mengaku baru menerima Panjar Rp. 10 juta kira kira pada bulan Februari 2021.

Kemudian Hakim Anggota Ahmadi Ali. SH, mengatakan saya mendengar keterangannya dari a.b.c d sampai Z semua mengaku menyuruh orang, sehingga pasang badan terdakwa Rs karena sudah ada Panjar harga tanah, ini tanggung jawab ibu karena ini permasalahan ibu dan tidak terlepas dari permasaahan ibu, mana yang benar apakah tanda tangan AJB dikantor Desa atau dibawakan setelah selesai AJB atau ada yang dikuassakan untuk mengurusnya sehingga Saksi A de Charge Hj.Jusnawati mengakui kalau yang mengurus AJB sepenuhnya adalah Supri tak lain Sekretaris Desa Lempa Pada Waktu itu.Dan Fatalnya lagi” Saksi A de Charge Mengaku TIDAK HADIR PADA SAAT PEMBUATAN AJB.”Sedangkan jelas tertulis di AJB Jika pada saat itu saksi A de Charge hadir sebagai pihak ke 2.

Pantauan awak media Porosnusantara.co.id, Sidang Saksi A de Charge ( Saksi meringankan ) dimulai pada Pukul 14.00 wita dan berakhir pada Pukul 15.36 wita berjalan dengan lancar, namun saksi A de Charge agak kebingungan menjawab pertanyaan pertanyaan baik dari JPU maupun dari Majelis Hakim, kebingungannnya itu tanah sudah disepakati dijual kepada terdakwa Rs, namun Saksi A de Charge mengaku menyuruh terdakwa id menebang Pohon kelapa, dan sebelum menutup Sidang Hakim Ketua A.Nur Haswah.SH mengagendakan / menetapkan Sidang TUNTUTAN Jaksa Penuntut Umum (JPU) besok hari selasa pada Pukul 14.00 wita.

Ditempat terpisah H. Agustan membenarkan kalau dirinya pernah menawarkan uang sebesar Rp. 80 juta hingga Rp. 150 juta kepada Hj.jusnawati, dan membantah keras kalau dikatakan untuk membeli tanah tersebut, buat apa saya membeli tanah saya sendiri yang jelas jelas sudah ada sertifikatnya ,sekarang apapun bentuknya Negara mengakui kalau tanah tersebut milik saya karena sudah dibalik nama atas nama saya sendiri dengan sertifikat nomor 436 , cuman saya tawarkan Uang tersebut hanya mengganti uang yang diterima indo Songko dan Ambo Amiri dari Hj . Jusnawati dengan tujuan kami serumpung keluarga tidak terpecah pecah.- Tegasnya kepada awak media porosnusantara.Co.id. ( Marsose/Dahliah ).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *