Sumber PAD lainnya adalah Retribusi Daerah; semula Rp 38.339.758.107,00 bertambah/(berkurang) (Rp 2.118.896.300,00) sehingga jumlah retribusi daerah setelah perubahan Rp 36.220.861.807,00.
Dan, PAD dari Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, semula Rp 4.827.986.001,00 bertambah/(berkurang) Rp 35.437.682.578,00, jumlahnya menjadi Rp 40.265.668.579,00.
PAD dari Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, semula Rp 178.114.152.049,00 bertambah/(berkurang) Rp 40.479.021.417,00 menjadi Rp 218.593.173.466,00.
Sementara pendapatan transfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b, bersumber dari: transfer pemerintah pusat yang semula Rp 1.016.883.806.000,00 bertambah/(berkurang) Rp 156.484.741.458,00 jumlahnya menjadi Rp 1.173.368.547.458,00.
Transfer Antar Daerah, semula Rp 496.470.208.467,00 bertambah/(berkurang) Rp150.850.887.230,00 menjadi Rp 647.321.095.697,00. Dan, Lain-lain pendapatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan: Semula Rp 131.113.700.000,00 bertambah/(berkurang) Rp 19.160.087.469,00 menjadi Rp 150.273.787.469,00.
Demikian rincian umum yang diperoleh NERACA yang belum maksimal transparansinya, berdasarkan sumber-sumber pendapatan khususnya PAD. Belum ada transparansi rincian detail tentang yang dipungut dari berbagai dinas, badan & instansi lainnya termasuk dari BUMD, KUPT dan BLUD; misalnya pungutan pajak daerah dan retribusi dari RSUD, Puskesmas, IMB, parkir, sampah, KIR Kendaraan, Pajak Bagi Hasil, Investasi dan Penyertaan Modal, serta Sewa Aset Kekayaan Daerah dan lain sebagainya yang jumlahnya mencapai puluhan sumber PAD.
(Dasmir)






