Porosnusantara.co.id |Jakarta – Rapat Kerja (Raker) Badan Musyawarah (Bamus) Betawi Tahun 2026 yang digelar di Hotel Acacia Jakarta, Selasa (16/6/2026), menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis terkait peningkatan kualitas pendidikan dan pelestarian budaya Betawi. Salah satu tokoh yang turut memberikan pandangan dalam forum tersebut adalah Dewan Pakar Persatuan Wanita Betawi (PWB), Cucu Sulaikha (80), yang juga merupakan pendiri dan pemilik Yayasan Persatuan Wanita Betawi (Yayasan Nanas).
Cucu Sulaikha yang ikut membidani lahirnya Bamus Betawi sejak tahun 1982 menilai hasil Raker tahun ini sangat padat dan sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global tanpa meninggalkan identitas budayanya.
Menurutnya, salah satu poin terpenting dalam Raker adalah perhatian terhadap pendidikan anak-anak Betawi, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dan keluarga seniman.
“Isi Raker yang paling bagus adalah bagaimana meningkatkan pendidikan untuk anak-anak Betawi. Pemerintah harus memperhatikan nasib pendidikan mereka, terutama anak-anak seniman dan keluarga yang kurang mampu. Perlu ada program beasiswa karena hingga saat ini masih banyak anak yang putus sekolah akibat keterbatasan biaya,” ujar Cucu.
Ia juga mengenang perjalanan panjang Bamus Betawi sejak didirikan pada tahun 1982. Saat itu, kata dia, budaya Betawi masih belum mendapatkan perhatian yang memadai, bahkan masyarakat Betawi sendiri banyak yang belum mengenal akar budayanya.
“Bamus Betawi dibentuk tahun 1982 dengan Ketua Umum pertama almarhum H. Effendi Yusuf. Saya ikut sejak awal. Dulu masyarakat Betawi seperti terpinggirkan. Bahkan kesenian dan budaya Betawi belum banyak dikenal. Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah jauh berbeda, budaya Betawi mulai berada di depan dan mendapat tempat yang layak,” tuturnya.
Cucu juga menyoroti peran media dan ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ) dalam memperkenalkan kuliner khas Betawi kepada masyarakat luas. Menurutnya, berbagai makanan dan minuman tradisional Betawi yang dahulu kurang dikenal kini semakin populer berkat promosi yang berkelanjutan.
“Dulu kerak telor dan bir pletok tidak mudah ditemukan. Setelah mendapat ruang di PRJ Kemayoran, kuliner Betawi mulai dikenal masyarakat luas. Sekarang bahkan di luar Jakarta sudah ada yang menjual bir pletok. Ini merupakan hasil perjuangan panjang masyarakat Betawi dan Bamus Betawi,” katanya.
Dalam menyongsong Jakarta sebagai kota global, Cucu berharap pemerintah dapat menghadirkan pusat kuliner Betawi yang terintegrasi sehingga wisatawan lebih mudah mengenal kekayaan kuliner khas Betawi.
“Kuliner juga bagian dari pelestarian budaya. Banyak makanan khas Betawi yang belum dikenal masyarakat. Harapan saya, ke depan ada satu kawasan khusus yang menampilkan seluruh kuliner Betawi sehingga wisatawan bisa menikmati kerak telor, soto Betawi, kue-kue tradisional, hingga berbagai hidangan khas lainnya dalam satu tempat,” ujarnya.
Cucu juga menceritakan lahirnya Persatuan Wanita Betawi pada tahun 1983 yang kemudian melahirkan Yayasan Nanas sebagai wadah kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Persatuan Wanita Betawi dibentuk agar perempuan Betawi memiliki wadah untuk bersatu dan saling mengenal. Dari kebutuhan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, kemudian lahirlah Yayasan Nanas agar gerakan sosial bisa lebih leluasa dilakukan,” jelasnya.
Menghadapi era digital, Cucu menitipkan harapan besar kepada generasi muda Betawi untuk melanjutkan perjuangan dalam bidang pendidikan, budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Generasi muda harus tanggap terhadap perkembangan zaman, termasuk dalam pengembangan UMKM dan pendidikan. Persatuan menjadi kunci agar masyarakat Betawi tetap kuat menghadapi berbagai tantangan ke depan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Bamus Betawi, H. Riano P. Ahmad, S.H., yang juga anggota DPRD DKI Jakarta, menegaskan bahwa Raker 2026 menjadi momentum konsolidasi seluruh elemen masyarakat Betawi untuk turut berkontribusi dalam pembangunan Jakarta.
“Masyarakat Betawi harus ikut membantu pembangunan. Jangan hanya berkumpul, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan dan situasi yang terjadi, termasuk dinamika global yang turut memengaruhi kehidupan masyarakat,” ujar Riano.
Menutup rangkaian Raker, Cucu Sulaikha menyampaikan apresiasi kepada Gubernur DKI Jakarta atas perhatian yang diberikan terhadap masyarakat dan budaya Betawi.
“Mudah-mudahan Jakarta berhasil menjadi kota global, tetapi budaya Betawi tetap menjadi ruh dan identitas utama kota ini,” pungkasnya.






