Bangkikan Nostalgia, Masyarakat Morotai Antusias Sambut Kehadiran Puan Cucu Sang Proklamator Sukarno

Selain Muhajir, Adelheid.M Salawati Piether yang saat kunjungan Sukarno itu menjadi dirijen paduan suara, juga kerap menceritakan kenangannya. Pada sebuah media lokal, Adelheid pernah berkisah tentang seriusnya persiapan yang dilakukan oleh sekolahnya, hingga untuk memilih dirijen pun, ada proses seleksinya. Ia ingat, saat itu ada tiga kandidat dirijen yang ikut dalam seleksi. Ketiga kandidat itu diuji cara menyanyi dan cara mengkonduktori paduan suara.

“Dari tes itu, saya yang terpilih,” kata Adelheid. Ia masih menyimpan fotonya saat menjadi dirijen.

Perempuan yang 2022 ini berusia 80 tahun itu berdiri di sebuah kursi, memandu teman-temannya menyanyi, sementara Bung Karno duduk santai di sebuah kursi di dekat tempat Adelheid berdiri, menyaksikan dengan penuh perhatian aksi anak-anak paduan suara menghiburnya dengan beberapa lagu.

Saksi sejarah lain yang juga hadir dalam kunjungan Puan ke monument Ir. Sukarno di Kawasan Study and Sport Center itu juga ada Sarifudin Lanoni dan Icong yang turut menjemput Sukarno di Pelabuhan.

Seusai memberi sambutan peresmian, Puan menuruni podium dan langsung menghampiri para saksi sejarah yang sedianya akan dipanggil naik ke atas panggung untuk berfoto Bersama Ketua DPR RI perempuan pertama itu. Wajah para saksi sejarah itu berseri-seri menyambut cucu sang proklamator yang menghampiri, menyalami mereka satu persatu dan mengajak foto bersama. Di mata para saksi sejarah itu, kenangan seperti hidup kembali, diwakili oleh hadirnya Puan.

Masyarakat Morotai secara umum memang masih menyimpan kenangan mendalam tentang Presiden Sukarno yang jejaknya cukup banyak bisa ditemukan di daerah tersebut.

Morotai dahulu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan kesultanan Tidore, kerajaan yang menguasai kepulauan moro di Halmahera hingga Papua. Pada 1950 Tidore bergabung dengan Republik Indonesia bersamaan dengan berakhirnya Republik Indonesia Serikat (RIS) yang diputuskan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag Desember 1949.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *