Melihat kondisi pada masa tersebut yang kerap kali terjadi peperangan, Harsanto Adi selaku KETUM API memberikan pandangannya terkait akar dari peperangan tersebut terjadi, “Saya lihat ini masalah hanya dalam negeri saja, dimana kita lihat adanya perbedaan pendapat atau ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat sehingga terjadinya pemberontakan tersebut”. Lanjutnya, “kalau peperangan antar negara saya pikir itu terjadi karena masalah-masalah perbatasan dan permasalahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya konflik,” jelasnya.
Dibalik pemberontakan yang terjadi, ada pengalaman menarik yang disampaikan Bantu Hardjijo ketika berada di Ambon. “Waktu itu pertama kali saya ke Ambon dan kita tahu bahwa Ambon daerahnya dibagi 2, yakni daerah Islam dan Kristen,” ungkapnya. Bantu Hardjijo melakukan upaya perdamaian antar dua daerah ini, dimana Bantu Hardjijo diperintahkan oleh Menko untuk mengumpulkan 100 orang Islam dan 100 orang Kristen dan melakukan berbagai upaya-upaya perdamaian. “Sehingga ini menjadi hal bagaimana kita mengupayakan perdamaian. Itu yang menjadi hal yang mengesankan buat saya karena pengalaman ini bisa kita gunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi saat ini juga,” ungkap Bantu.
Pada masa perjuangan, kedekatan antara pemimpin dengan rakyat jelas sekali sangat dekat. Namun ketika ditelusuri dalam sejarah, ada pemberontakan yang terjadi seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII), menunjukan bahwa pada masa itu ternyata tidak solid. Bantu Hardjijo menanggapi bahwa, “Hal tersebut terjadi karena Belanda selalu memanfaatkan situasi dan berusaha untuk memecah belahkan kita”. Lanjutnya, “tentara kita dipaksa harus keluar dari wilayah yang dikuasai Belanda, sehingga terjadinya kekosongan dan pada kondisi itulah dimanfaatkan Kartosoewirjo untuk memproklamirkan Negara Islam Indonesia,” jelasnya.






