Dokter Veridiana mengatakan, bahwa setelah saya belah perutnya, ternyata bukan penyakit mioma tapi tumor ganas, jadi saya jahit kembali.
Dan ini harus saya rujuk ke dokter Samuel di rumah sakit Yosudarso Pontianak, saya (suprapto) sempat berkata “bahwa ibu dokter tidak profesional, pada waktu ibu dokter operasi istri saya mana buktinya, dia (dokter) terdiam.
Kemudian dia berkata istri bapak harus di rujuk ke dokter spesialis tumor dr. Samuel, berarti istri saya ini dijadikan kelinci percobaan Ya, ucap Suprapto pada dr. Veridiana saat itu.
Kebetulan anak angkat saya Waidi guru STM Singkawang sedang mengurus anak didiknya ke dokter Samuel, berkaitan dengan penyakit tumor. Jadi rujukan dari dr Veridiana saya WA kan kepada Waidi untuk menyampaikan kepada dr. Samuel tidak lama kemudian Waidi menelepon saya dan berkata “dr. Samuel marah” dan berkata dr Singkawang itu bisa bekerja atau tidak, jadi jangan main belah perut orang, tidak bisa baru kirim ke saya. Dan akhirnya setelah sebulan istri saya meninggal dunia, tuturnya.
Setelah meninggal istri saya, pihak rumah sakit mewakili suami dari dr. veridiana yang bernama dr. Robet bersama teman saya purnawirawan Polri Aliudin, mendatangi rumah saya dan kami adakan pertemuan.
Dalam pertemuan itu pihak rumah sakit dr. Robet meminta saya agar tidak perlu menggunakan pengacara atau kuasa hukum, kita selesaikan secara kekeluargaan, pak Suprapto menyambut baik niat mereka sehingga di jadwalkan lagi pertemuan kedua di rumah saya.
Pertemuan kedua saya ditanya berapa kira-kira jumlah pengeluaran bapa, tapi lagi-lagi pak Prapto justru mengatakan bahwa saya lagi berduka, rasanya tidak pantas harus menjawab pertanyaan itu. Lalu pak Prapto menceritakan biaya yang dikeluarkan selama setelah operasi, dia mengatakan bahwa demi menyelamatkan istri saya, maka saya jual 5 kavling tanah seharga Rp.125 juta dan satu unit mobil damtruck seharga Rp. 70 juta.






