“Kalau tidak ada pengolahan, hasil daun ini terbuang percuma, terlalu berlebihan untuk di makan atau berlebihan untuk dijual, maka harus diolah jadi produk industri,” kata Yohanes.
Pola pengembangan yang ketiga adalah krmandirian, tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan juga untuk menekan stunting.
“Jadi kita di NTT, angka stunting dikategorikan masih tinggi, tanaman kelor ini menjadi jawabannya,” ujarnya.
Yohanes berharap, peran dari seluruh stake holder baik itu masyarakat itu sendiri, lembaga Agama, lembaga masyarakat lainnya. Bisa bersinergi dengan kesadaran dengan menanam kelor, minimal untuk kebutuhan gizi keluarga dan juga bisa menekan angka stunting di NTT.
Secara terpisah, penggiat Kelor, Nelson Tlonan yang didampingi Ketua Ikatan Alumni SD dan SMP Angkasa( IKASSA) Dian Agus Yudianto, mengatakan bahwa dirinya menanam kelor diatas tanah miliknya seluas 1 hektar di Dusun Tulun Baumata Utara dari tahun 2016.
Awalnya untuk pembibitan, setelah mendapat penyuluhan banyak dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT manfaat dari budidaya kelor. Untuk itu dirinya membentuk kelompok tani kelor dengan melibatkan masyarakat, salah satunya adalah Timotius Sanaunu.
“Pak Timotius memiliki lahan 6 hektar. Semuanya ditanami kelor dan bibitnya berupa biji diambil dari kebun milik saya,” kata Nelson Tlonan.
Nelson berharap dengan adanya tanaman kelor, dirinya mengajak semua masyakat agar menanam kelor. Manfaatkan lahan untuk tanam kelor. Selain membantu pemerintah NTT dalam menekan angka stunting, kelor juga bisa jadi bahan olahan industri yang menjanjikan. (ER).






