“Ponpes-ponpes yang ada tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Karena bisnis di jaman modern ini tidak ada yang berjalan sendiri. Jadi antar pondok pesantren dengan pondok pesantren lainnya perlu sinergi dan jaringan kerjasama, baik dari sisi produksi, pemasaran, dan pengembangan sumberdaya manusianya. Dibutuhkan banyak kolaborasi antar pondok pesantren berbagai lini untuk bisa mendorong basis ekonomi pesantren yang kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, program-program strategis Kementerian Koperasi dan UKM dapat disinergikan dengan pesantren. Antara lain penguatan kelembagaan melalui Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) dan Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK), peningkatan kualitas SDM KUMKM melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship), promosi dan pemasaran produk pesantren melalui Lembaga Layanan Pemasaran KUMKM (Smesco Indonesia).
Deklarasi Gerakan Serikat Ekonomi Pesantren
Kementerian Koperasi dan UKM menyambut baik Gerakan Serikat Ekonomi Pesantren (SEP) yang dideklrasikan usai kegiatan ‘Penguatan Ekonomi Pesantren Melalui Koperasi’. Gerakan ini diinisiasi oleh Pesantren Idrisiyah, Al-Itifaq, Darut Tauhid dan Husnul Khatimah yang merupakan pesantren percontohan di bidang pengembangan ekonomi di Jawa Barat.
Deklarasi SEP yang dihadiri ratusan pondok pesantren dari berbagai wilayah Jawa Barat, ini disaksikan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Prof. Rully Indrawan, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat H. Oleh Soleh, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya Adi H Safari, dan sejumlah Pimpinan Pondok Pesantren se Jawa Barat
“Sudah saatnya pesantren menjadi penggerak ekonomi umat mengingat umat Islam di Indonesia menjadi umat Islam terbesar di dunia. Serikat ekonomi pesantren ini bisa menjadi jembatan lahirnya pengusaha pengusaha muslim yang bergerak di bidang ekonomi untuk kemakmuran umat,” kata Prof. Rully.






