Di persentase awal Bapak Dr. Sukirno yang memaparkan potensi dan juga keilmuan budidaya ulat sutera di Indonesia dan mengatakan kalau bicara tentang ulat sutra berarti membicarakan atau menyinggung tentang Sutera liar dan Bupati Wajo akan lebih menyinggung tentang ulat sutra Murbey.
“Ulat sutra liar dulunya ditangkap sebagai hama dan bila kita punya tanaman alpukat atau Kedondong yang daunnya tiba-tiba habis, kemudian ada ulat bulu yang warna merah coklat maka itu adalah ulat sutera liar yang memakan daunnya dan itu ada pada pohon rambutan dan pohon kedondong,” kata Dr. Sukirno.
“Padahal ini dianggap merugikan karena ini bisa menghasilkan kokon Sutra dan secara alamiah dia membantu pohon tersebut untuk menghasilkan atau meningkatkan buah sekitar 35%,” Dr. Sukirno menambahkan.
Selanjutnya pembicara atau narasumber berikutnya dari Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si yang menyampaikan bahwa penggunaan pakaian Sutra menjadi pakaian resmi untuk berkantor di Kabupaten Wajo di setiap hari Kamis, seluruh ASN harus pakai pakaian Sutra supaya pengrajin pengrajin Sutra yang hampir 7 ribuan bisa berdaya dan biasanya selalu mengeluh tentang bahan baku, ulat sutra yang diproduksi Perhutani tapi tidak mampu bersaing.
“Perhutani tidak mampu menghadirkan kualitas dan tidak mampu bersaing dengan telur impor dari China, kalau Perhutani kita paling hanya 12% saja mampu mengambil benang sutra dari satu kokon, kalau telur dari Cina bisa sampai 17% dan kualitasnya lebih kuat tidak putus-putus dan sebagainya kalau dipintal,” kata Bupati Wajo.
“Saya ingin hadir di tempat ini untuk curhat secara nasional, agar kita bisa memohon kepada ilmuwan-ilmuwan kita dari UGM atau dari manapun, untuk membantu kita untuk memikirkan supaya kita bisa memproduksi telur sendiri, karena kalau pesan dari Cina aturannya terlalu rumit, juga terkait perizinannya, izin impor telur harus di karantina dan lain sebagainya jadi mendatangkannya harus secara bertahap,” Dr. H. Amran Mahmud menambahkan.






