Siti memaparkan, di Bogor, ada 9 wilayah yang menjadi sasaran program. Yaitu Leuwiliang, Leuwisadeng, Rancabunguk, Megamendung, Cisarua, Caringin, Ciawi, Cijeruk, dan Tamansari.
“Untuk komoditasnya variatif ya. Disesuaikan dengan potensi di wilayah masing-masing. Misalnya jambu kristal dan cabai,” jelas Siti.
Satu hal yang menjadi kekagumannya adalah soal konsistensi para petani Jepang dalam hal kedisiplinan.
“Waktu berkunjung di Jepang saya melihat para petani di sana sangat disiplin dan sangat detail. Jika SOP-nya begini, mereka menjalankannya secara konsisten. Mudah-mudahan para petani kita bisa mencontohnya ya. Terutama di Bogor,” pungkas Siti.
Petani Terbantukan
Teten, Ketua Gapoktan Cikandang Agro asal Garut mengatakan sangat berterima kasih atas proyek kerja sama ini. Banyak hal terbantu yang diterima dirinya dan kelompok tani binaannya sejak 2016 lalu.
“Dari mulai benih, pupuk itu dibantu. Kemudian sampai SOP budidaya dan sarana produksi. Perencanaan, pemeliharaan sampai pemasarannya di damping 100% oleh JICA,” ujar Teten.
Dirinya bercerita, awalnya per orang diberi bantuan 100 m2 lalu meningkat hinga 400 m2. Bahkan hasil produknya sudah dengan salah satu perusahaan.
“Saya berharap program ini dapat diteruskan. Petani dalam hal budidaya memang perlu didampingi terus – menerus. Utamanya sekarang sudah lahir petani – petani muda baru yang haus akan ilmu bertanam, ” jelas Teten.
Salah satu petani lain, Irawan asal Lembang mengatakan bahwa hasil panen Pondok Pesantren Al Ittifaq bersama kelompok tani lainnya telah menembus pasar Jakarta.
“Ada 14 hektare lahan kerja sama dengan JICA dari total keseluruhan 144 hektare yang kami miliki. Terhitung sejak Maret 2019 kami sudah bekerja sama dengan AEON Super Market,” terang Irawan.






