Poros Nusantara, Jakarta – Rutan Cipinang terus berbenah. Program Inovasi terus di kembangkan. Seperti yang di lakukan oleh
Bapak Yulius Sumarli selaku Dokter di Rutan Cipinang, yang membuat inovasi dengan menyusun program kesehatan baru bernama SOS Ruci (Rutan Cipinang).
Screening test, penyaringan yang di lakukan oleh para petugas lapas Cipinang terhadap para napi membuahkan hasil. Awalnya tes penyaringan di targetkan untuk empat ribu tiga ratus orang napi, tetapi ternyata berhasil di tuntaskan keseluruhannya berjumlah empat ribu lima ratus tiga puluh tujuh orang napi. Ini adalah pencapaian penyaringan terbanyak yang pernah di lakukan oleh medis lapas selama ini. Keberhasilan ini di dorong karena Petugas lapas bekerja sama dengan SUB, KASUB dan para Team yang benar benar ingin menuntaskan penularan penyakit hapatitis C sesui instruksi yang di agendakan. Karena angka penemuan kasus Hepatitis C cendrung terus meningkat di lapas.
Angka 5,9 persen adalah jumlah yang di targetkan, tetapi yang di temukan justru melebihi angka di populasi umum yang hanya satu persen.Tentu ini adalah hal yang menarik untuk di pelajari lebih lanjut permasalahannya ungkap Bapak Yulius.
Bila di hitung keseluruhan para napi, untuk wilayah di DKI saja sudah berjumlah tujuh belas ribu orang. Maka itu upaya penyaringanpun terus di lakukan sejak dari awal terhadap para tahanan yang baru masuk ke lapas. Apakah mereka memang sehat atau sudah membawa penyakit sejak dari luar sebelumnya.
Pengecekan di lakukan tidak hanya terhadap penyakit hepatitis C tapi juga untuk semua jenis penyakit yang lain. Seperi HIV, Tuber Colosis, Gangguan jiwa serta penyakit menular Sexual.
Inovasi program unggulan baru kesehatan bernama SOS Ruci (Rutan Cipinang) yang saat ini sedang di fokuskan oleh Bapak Yulius menyangkut program hepatitis C
(SOS Ruci) rupanya mendapat apresiasi besar. Sehingga menjadi percontohan untuk di ikuti oleh lapas lapas lain di seluruh Indonesia. Namun nama yang mereka pakai justru berbeda yaitu “Kader kesehatan” katanya. Bapak Yulius juga telah mempresentasikan program SOS Ruci ini ke Eropa yaitu ke Negara Perancis, Paris di tahun 2013 yang lalu. Sehingga atas prestasinya di tahun 2015 dia di beri penghargaan oleh kementrian dan Dirjen pemasyarakatan sebagai Pegawai teladan dari seluruh Indonesia. Dan penghargaan SOS Ruci mendapat hak cipta dari Dirjen HKI sebagai pertama yang di lakukan di rutan Cipinang. Program SOS Ruci ini di jalankan oleh kader kader binaan dari lapas setempat yang di pilih dan di latih untuk membantu program Poloklinik di bidang kesehatan LP Cipinang.
Untuk menjadi relawan SOS Ruci tentu ada persyaratannya. Pertama mereka sudah vonis, yang hukumannya selama dua tahun sampai empat tahun. Dengan latar belakang pendidikan SMU ataw sederajat. Kedua lewat wawancara tertulis lisan dan pelatihan. Bila dinyatakan lulus, tentu mereka sudah bisa bergabung di program tersebut. Ada hal yang menarik, ternyata mereka yang sudah bebas vonis rupanya masih berkenan bergabung dengan sukarela untuk tetap membantu menjalankan program tersebut karna telah memiliki pengetahuan. Sehingga merekapun di terima di Yayasan untuk dilibatkan pada program program seperti pencegahan Hepatitis C, HIV dan lainnya sebagai pengawas pasien. Seperti memberi bimbingan dan konseling, rutin menganjurkan untuk tetap minum obat teratur, pengecekan kesehatan berkelanjutan dan lainnya. Ini justru sangat membantu para dokter dan para petugas team medis yang jumlahnya sedikit. Namun menjadi lebih optimal dan maksimal sehingga sasaran mencapai target. Perlakuan ini tidak hanya di lakukan terhadap tahanan baru namun juga kepada tahanan terdahulu yang telah positive terjangkit.
Team medis sendiri terdiri dari empat orang dokter Umum, dua orang dokter Gigi dan enam orang perawat. Selain Hepatitis C, juga di lakukan pendataan untuk penyakit HIV. Dan sampai akhir bulan ini para Napi yang mengidap HIV sudah berjumlah tujuh puluh sembilan orang. Dari jumlah tersebut ada yang baru menyadari bahwa mereka telah terjangkit setelah melakukan pengecekan di dalam lapas. Namun dari mereka ada yang sudah mengetahui mengidapnya sejak sebelum masuk tahanan. Diawal pengobatan tidak sedikit yang menolak untuk meminum obat. Oleh karena motivasi yang terus menerus dilakukan dengan gencar, akhirnya mereka menyadari pentingnya menjaga kesehatan dengan rutin meminum obat. Ketika di singgung bagaimana bila suatu saat mereka di vonis bebas dari tahanan, sedang suplai obat harus terus tetap berjalan untuk di minum. Adakah dukungan itu akan tetap berlanjut?, dimanakah mereka akan terus mendapatkannya?, tentu bisa. karna kemudahan saat ini tidak sesulit dulu ketika ingin mendapatkannya.
Dahulu memang di berlakukan tahapan tahapan yang bertingkat, sehingga membuat pasien menjadi malas mencari obat dan patah semangat untuk berjuang sembuh. Karena awal penemuan, harga obat memang sangat mahal dan akses untuk mendapatkannya sangat terbatas. Bersyukur hari ini semua berbanding terbalik, sebab saat ini aturan pelayanan kementrian kesehatan kepada masyarakat untuk HIV sudah banyak di Sosialisasikan baga cara untuk mendapatkan Obat secara gratis. Seperti di rumah sakit, Puskesmas dan tempat tempat yang memang menyediakan untuk layanan HIV. Kita tahu saat ini Rumah Sakit Pengayoman yang ada di LP Cipinang jakarta di tunjuk untuk menjadi satelit terhadap rumah Sakit lainnya.
Bapak Yulius belum merasa puas. Bersama teamnya di ruang Policlinic lapas rutan cipinang saat ini sedang giat menyusun satu program inovasi baru yaitu program K3 (keselamatan kesehatan kerja). Program yang akan di hadirkan ini, bukan hanya untuk memperhatikan warga binaan semata, tapi juga untuk para petugas yang ada dengan mengimplementasikannya di lapas rutan lewat kategori, resiko serta langkah langkah nya.
Apakah program kesehatan keselamatan kerja/K3 ini juga akan di jadikan percontohan oleh lapas lapas lain?, kita tunggu gebrakan Inovasi bapak Yulius dan team selanjutnya.
Terlepas dari semua penghargaan itu, sebagai seorang Dokter, dia hanya ingin berdedikasi. Sumbangsih ini murni tulus di persembahkannya untuk kebaikan masyarakat luas.







Berasa kayak pahlawan aja ini org. Padahal kasusnya banyak, tukang bikin masalah, masuk kantor bs dihitung separuh sebelah tangan dlm seminggu. Hadeeeh… Lebay amat ini berita. Ini orang tukang palak para napi di dalem. Bikin BAP aja kudu pake duit, padahal udah tugas dia. Sadar woooy… Sadaaaar…. Tunggu wktnya aja ini org dilipet jadi napi sekalian di dalem juga.