Yani menyebutkan harga bungan Krisan biasanya per ikat dengan isi 10 batang harganya Rp 13.000 namun pada saat-saat banyak hajatan bisa meningkat menjadi Rp 15.000 hingga Rp. 20.000 per ikat. Bunga Krisan yang diminta Jepang hanya 2 varietas saja, yakni yang vaforit warna kuning nama varietasnya Puspita Nusantara dan warna putih nama varietasnya Kinanti.
“Budidaya bunga krisan ini mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Memang dibutuhkan kemapuan tertentu dan hanya bisa ditanam pada katinggian tertentu, oleh karena itu LPPNU Jatim akan memberikan pendampingan budidayanya,” urainya.
Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi mengatakan Kementan terus memacu peningkatan produksi komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya tanaman hias yang memiliki potensi pasar ekspor yang terbuka lebar. Indonesia sangat kaya akan komoditas tanaman hias. Terdapat 173 jenis tanaman hias dengan ribuan jenis varietas yang tersebar di berbagai daerah.
“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kita targetkan tanaman hias yang petani produksi berkualitas ekspor agar pendapatan petani dan negara meningkat. Ini pasti bisa karena tanaman hias kita memiliki daya saing yang tinggi di pasar dunia. Keunggulan lainnya, tanaman hias kita bisa memberikan kasih sayang bagi para pecinta bunga,” kata Suwandi.
Perlu diketahui, pada bulan Maret 2019 kemarin bertempat di Cianjur Jawa Barat, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor bunga Krisan ke Jepang sebanyak 14 juta stek. Melansir data BPS, total ekspor komoditas hortikultura tahun 2018 sebesar 435.328 ton senilai Rp 6,27 triliun. Khusus ekspor bunga Krisan, di tahun 2018 sebesar 59,1 ton, senilai Rp 11,7 miliar dan tanaman hias 2018 sebesar 4.675 ton. Selain Jepang, tujuan ekspor krisan selama ini ke Kuwait, Malaysia dan Singapura.






