Di sisi lain, lanjut Suwandi, pembagunan pertanian berbasis digital tidak hanya mendata potensi produk pertanian secara online yakni by name dan by address. Namun demikian juga dapat memecahkan masalah selama ini yakni pelaku usaha atau eksportir tidak akan lagi kebingungan dalam mencari pasokan dan petani ingin memasarkan produknya bisa kemana saja karena pelaku usaha sudah menggunakan pasar online, sehingga mempertemukan antara petani dengan pelaku sangat cepat dan efisien.
“Sebanyak 22 star up sudah kami link kan. Hal ini sesuai dengan tema yang diangkat expo ini yakni integasi teknologi informasi menuju petani semakin sejahtera. Kami di Kementan juga memberikan pelayanan online untuk izin ekspor komoditas hortikultura. Ekspor benih dan tanaman hias dulu membutuhkan waktu 13 hari atau 300 jam, tapi sekarang hanya butuh waktu 3 jam, izin langsung terbit,” bebernya.
“Ini sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kami tindak lanjuti dan gerakan-gerakan lainya yang luar biasa dalam mempermudah investasi dan memacu ekspor, dan ujungnya membuat petani semakin sejahtera. Untuk itu, kami minta agar semua komoditas pertanian di Jawa Tengah ini kualitasnya ditingkatkan dan didekatkan dengan pasar,” pinta Suwandi.
Wibowo, salah seorang petani tanaman hias asal di Purwokerto yang hadir pada Soropadan Expo ini menyambut baik tekad pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memajukan pertanian berbasis teknologi digital. Pasalnya, ia tidak hanya sebagai petani, tetapi juga hingga saat ini menjadi penjual yang memasarkan langsung berbagai tanaman hiasnya secara online.
“Saya sudah 3 Tahun membuka market tanaman hias, dengan mengikuti berbagai event dan melalui e-market. Berbagai tanaman hias yang ditawarkan mulai Aglonema, Kaktus hingga Anggrek dan Tanaman Bonsai. Jankauan pasar sudah menembus di luar Jateng, seperti Jawa Timur dan Ibu Kota Jakarta. Kaktus dan Anggrek menjadi komoditas yang banyak diminati konsumen di dua daerah ini,” sebutnya.






