Kementan dan FAO Dorong Peternak Unggas Terapkan Biosecurity 3 Zona

“Saya berharap PPN, dapat bersinergi dengan pemerintah dalam mendukung dunia perunggasan nasional kedepan sehingga memberikan imbas positif bagi kemajuan pembangunan peternakan” tutur Ketut.

Pada kesempatan terpisah, hal senada juga diungkapkan Chief Technical Adviser Unit Khusus Badan Pangan dan Pertanian PBB di Indonesia (FAO ECTAD) , Luuk Schoonman yang mengatakan hasil kajian FAO menunjukan bahwa implementasi biosecurity 3-zona secara rutin dan konsisten di peternakan ayam petelur secara signifikan menurunkan penggunaan antibiotik 40 % dan disinfektan 30%.

“Biosecurity 3-zona harus menjadi standar di peternakan ayam petelur dalam menghasilkan produksi yang maksimal dan bebas dari penyakit zoonosa khususnya flu burung,” ungkapnya.

*Perkembangan Produksi Telur*

Kementan mencatat sumbangan produksi pangan hewani di Indonesia khususnya ayam ras telah telah mencapai swasembada dengan menyumbang sekitar 71% telur nasional dan 29% dipenuhi dari telur unggas jenis lain serta mampu menyumbang sekitar 55% (daging ayam broiler) untuk kebutuhan daging nasional.

Berdasarkan data populasi ayam petelur (layer) komersil tahun 2019 per bulan berkisar antara 226 juta – 248 juta ekor dengan rataan populasi layer komersil umur produktif (19-88 minggu) sebanyak 167 juta. Sedangkan perkembangan produksi dan kebutuhan telur konsumsi berdasarkan jumlah penduduk dan konsumsi perkapita pertahun yaitu: Tahun 2018 sebanyak 2,57 juta ton (rataan perbulan sebesar 213.755 ton) dengan kebutuhan telur sebesar 1,77 juta ton (rataan perbulan sebesar 147.201 ton), sehingga terdapat kelebihan produksi telur tahun 2018 sebesar 798.654 ton. Tahun 2019 potensi produksi telur sebanyak 2,88 juta ton (rataan perbulan sebesar 239.884 ton) dengan kebutuhan telur sebesar 1,82 juta ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *