“Sale pisang ini juga mempunyai pasar yang cukup besar, salah satunya untuk Sumedang Jawa Barat,” ucapnya.
Lebih lanjut Suwandi mengatakan bahwa pisang mas sangat diminati oleh konsumen di Singapura dan Cina. Tidak hanya pisang mas, di Lampung ini sudah mengekspor pisang cavendish. Imagenya Indonesia itu masih impor pisang, saya katakan itu tidak benar, kita tidak ada impor pisang, bahkan kita sudah ekspor pisang.
“jadi, mari bersama kembangkan potensi pisang ini, sehingga kedepan bisa memasok kebutuhan pasar lokal dan luar negeri. Cintai produksi dalam negeri, konsumsi pangan lokal dan viva republik Indonesia. Salam dari lampung,” tandas Suwandi.
Pada kesempatan yang sama, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Lampung Achmad Chrisna Putra mengatakan bahwa ada 3 jenis pisang yang dibudidayakan, yakni pisang mas kirana, barangan dan cavendish. Untuk lahannya di Lampung ini totalnya bisa mencapai 1.000 hektar, khusus di Tanggamus 500 hektar.
“Untuk penanamannya kami mengembangkan dengan kultur jaringan, jadi tanamannya bisa tumbuh seragam dan kompak,” katanya.
Staf PT Great Giant Pineapple yang menangani pisang di Tanggamus Sigit menambahkan, permintaan pasar dalam negeri sampai 3.000 kardus perminggu, sedangkan yang bisa dipasok dari daerah sini baru 500 kardus perminggu. Yang artinya masih ada peluang pasar sekitar 6 kali lipat dari pemasok sekarang, artinya potensi pasar luar biasa.
“Tidak hanya potensi pasar dalam negeri, potensi pasar luar negeri juga sangat besar,” sebutnya.
Untuk Singapura, permintaan sebanyak 1 kontainer sekitar 5,6 ton per minggu dan Cina sebanyak 2 kontainer sekitar 10 ton lebih perminggu. Realisasinya permintaan sebanyak ini baru bisa kami penuhi hanya 108 kardus.






