Saatnya Petani Brebes Menerapkan Budidaya Bawang Merah Ramah Lingkungan

Kecenderungan menggunakan pestisida kimia dibenarkan Dasuki, petani bawang merah yang bertani sejak 2005. Petani yang merupakan Ketua Kelompok Tani Bengkok di Desa Kedung Bokor, Kecamatan Larangan, Brebes ini menyatakan sulitnya mengubah kebiasaan petani.

“Iya, walaupun sosialisasi mengenai pentingnya pengendalian OPT dengan bahan pengendali OPT ramah lingkungan sudah seringkali disampaikan oleh petugas POPT setempat tetap tidak mengubah pola kebiasaan para petani,” ujar Dasuki.

Dirinya menyadari penggunaan pestisida secara masif tadi berdampak pada meningkatnya biaya produksi, belum lagi saat ini banyak pestisida palsu beredar di Brebes.

Kasubdit Pengendalian OPT Sayuran dan Tanaman Obat, Nadra Illiyana bersama Koordinator POPT Kab. Brebes, Maryadi serta POPT di Kecamatan Larangan, Raswin kembali mengingatkan petani meninggalkan kebiasaan penggunakan pestisida kimia sintetik.

“Perubahan praktek pengendalian OPT secara konvensional ke sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu dilakukan secara bertahap melalui lahan percontohan budidaya ramah lingkungan yang terintegrasi serta sosialisasi yang intensif. Hal ini memang tidak mudah karena butuh waktu dan proses agak panjang,” ujar Nadra saat melakukan pendampingan.

Namun, lanjut Nadra, ikhtiar melakukan budidaya bawang merah dengan pengendalian OPT ramah lingkungan ini perlu perhatian lebih untuk mengubah tradisi agar tanah di Brebes lebih sehat.

Pada kesempatan tersebut sekaligus dilakukan sosialisasi bahan – bahan pengendalian OPT ramah lingkungan berupa feromon dan perangkap lampu untuk mengendalikan ulat bawang.

“Kementan meminta kepada semua BPTPH untuk melaksanakan pengendalian OPT secara pre – emtif dengan memanfaatkan bahan pengendali OPT ramah lingkungan yang sudah banyak dihasilkan oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP). Lakukan serta monitoring secara intensif terhadap pertanaman hortikultura sehingga gangguan OPT tidak mengganggu produksi dan mutu produk hortikultura,” ujar Direktur Perlindungan, Sri Wijayantie Yusuf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *