“APBN harus dilihat secara penuh. Di banyak negara, penerimaan selalu lebih kecil dari belanjanya. Dalam APBN, penerimaan itu estimasi atau perkiraan dengan memperhatikan kondisi eksternal sementara belanja itu fix. Sehingga APBN bisa mengalami defisit. Kalau defisit harus pinjam. Utang adalah konsekuensi dari kebijakan fiskal, ” paparnya.
Saat menjelaskan fungsi stabilisasi, ia mengatakan bahwa kebijakan fiskal didesain untuk mendinginkan ekonomi jika terjadi overheating seperti pemberlakuan kenaikan pajak. Namun jika ekonomi lesu, maka diberikan stimulus seperti insentif pajak.
“Kalau ekonominya lagi boom, bisa overheating, maka didinginkan. Kalau ekonominya lesu, penerimaan negara turun maka diberikan stimulus,” pungkasnya (nr/aw)
sumber https://www.kemenkeu.go.id






