Sejalan dengan itu, Ketua Umum IKAPI, Rosidayati Rozalina, mengatakan saat ini IKAPI telah melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan literasi di Indonesia. Baik melalui pameran buku murah di seluruh Indonesia maupun penyediaan sistem informasi yang akuntabel untuk memudahkan masyarakat memesan buku melalui jaringan online.
“Pada pameran yang diselenggarakan IKAPI setiap tahunnya sekarang kita buka yang namanya zona kalap, yaitu buku-buku yang dijual dengan harga yang sangat miring. Sekarang pun bukan hanya di IBF (Indonesia Book Fair), tetapi di daerah pun ada Liga Buku Bandung, kemudian juga beberapa penerbit mengadakan kegiatan menjual buku murah ke masyarakat, jadi sekarang ini memang semakin ramai sebetulnya,” kata Rosidayati.
Khusus untuk daerah terdampak bencana, IKAPI memiliki program sejuta buku yaitu pemberian buku-buku kepada masyarakat yang terkena dampak bencana, baik berupa buku baru maupun buku bekas. “Tentu itu juga kita harapkan bukan hanya dari buku rumah yang disumbangkan, akan tetapi ada pembelian buku oleh para donatur untuk disumbangkan. Jadi bukan hanya mendapat buku bekas tapi juga buku baru yang dijual di pameran,” ungkapnya.
Untuk minat baca sendiri, Rosidayati mengakui bahwa minat baca masyarakat masih rendah yakni satu berbanding seribu orang. Tetapi, saat ini terjadi peningkatan minat baca di masyarakat sebanyak 11,6 persen. Sementara itu, produksi buku yang tercatat di International Standard Book Number (ISBN) mencapai 70.000 judul buku per tahun. Namun, tidak semua judul buku beredar di masyarakat karena ada buku-buku yang diterbitkan oleh lembaga. IKAPI sendiri mencatat ada 30.000 judul buku baru yang beredar di masyarakat per tahunnya. (Red)






