Porosnusantara.co.id, Jakarta – Yayasan Perguruan Cikini (Yapercik) diterpa berbagai isu permasalahan pengurusan lembaga pendidikan khususnya terkait pengelolaan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) yang ada dibawah naungan yayasan yang berdiri pada 1942 tersebut.
Atas Hal tersebut, para alumni yang tergabung dalam All Yapercik meminta pihak yayasan bersikap tegas dan mengambil langkah kongkret menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.
“Komersialisasi Pendidikan, Otoriterisme dan ‘Salah Urus’ Mendegradasikan mutu sekolah ini. Bahkan 10 tahun belakangan ini hampir seluruh tingkat pendidikan di bawah naungan Yayasan Perguruan Cikini (Yapercik) merosot tajam kualitas maupun kuantitas peserta didiknya sampai mencapai tingkat nadir/kritis,” ujar Juru Bicara Alumni All Yapercik, Indrian Lubis dalam pernyataan tertulis yang diterima MONITOR, Rabu (24/4/2019).
Menurut Indrian, ATN/STTN/ISTN yang didirikan oleh Alm. Prof. Ir. Rooseno pada tanggal 5 Desember 1950 lalu, adalah sebuah Perguruan Tinggi Swasta Teknik Tertua di Indonesia. Sejatinya, pendirian ATN/STTN/ISTN oleh Alm. Prof. Ir. Rooseno, adalah untuk mencetak insinyur-insinyur yang memiliki kompetensi, berdaya juang tinggi serta berjiwa patriotisme dalam upaya membangun Indonesia pasca revolusi kemerdekaan 1945.
“Namun, 69 tahun berlalu, ATN/STTN/ISTN seolah tenggelam diantara hiruk pikuk dunia akademis. Hiruk pikuk dunia akademis yang saat ini diisi oleh banyak kampus-kampus baru yang belum seusia ATN/STTN/ISTN dan mulai mendominasi jumlah mahasiswa, kemampuan akreditasi serta uji kompetensi. ATN/STTN/ISTN hari-hari belakangan ini tidak lagi seperti cita-cita Alm. Prof. Ir. Rooseno,” ungkap Indrian.
Indrian menambahkan satu-persatu perkara mulai bermunculan didalam tubuh ATN/STTN/ISTN dan tidak dapat diselesaikan oleh Rektor maupun Pengurus Yapercik.






