“Anak Bidikmisi itu bisa merasa kurang mampu tapi mereka mendapatkan angin segar, yaitu beasiswa yang diberikan pemerintah. Dengan adanya beasiswa itu, struggling mereka sangat tinggi. Mereka biasa hidup kurang mampu, daya juang mereka keras, tapi mendapatkan umpan sedikit, bisa lari dengan cepat,” ungkap Nasir.
Nasir menyatakan apabila pemerintah tidak memberikan beasiswa Bidikmisi bagi mahasiswa, angka kemiskinan di masa depan akan membengkak dan beban pengangguran akan meningkat.
“Jangan sampai pada saat kita dapat bonus demografi, sumber daya kita tidak berkualitas, pasti akan menjadi malapetaka Indonesia. Bukan kemiskinan semakin mengecil, tapi akan melebar kalau tidak ada beasiswa,” ungkap Nasir.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Jember Mohammad Hasan turut mengapresiasi mahasiswa Bidikmisi yang tingkat mudah diterima di lapangan kerja.
“Bidikmisi yang memang sudah dimulai oleh pemerintah beberapa tahun lalu di Universitas Jember ini sendiri sudah meluluskan 2.200 sarjana. Beberapa profil lulusan kami alhamdulillah sudah menyebar, termasuk sudah banyak diterima di pekerjaan di masyarakat, baik di pemerintahan maupun nonpemerintah di semua bidang, termasuk yang jadi dokter sudah ada,” ungkap Universitas Jember Mohammad Hasan.
Motivasi Menristekdikti bagi Mahasiswa Bidikmisi
Dalam kuliah umum “Peningkatan Softskill Mahasiswa Program Bidikmisi dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Gedung Soetardjo Universitas Jember, Menristekdikti menyatakan kepada mahasiswa Bidikmisi dirinya dulu turut berjuang saat berkuliah di Universitas Diponegoro.
“Saya sendiri anak petani. Orang tua saya tidak mampu membiayai saya kuliah di perguruan tinggi di Universitas Diponegoro saat itu. Saya kerja juga (sambil kuliah). Dari anak petani jadi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Anda juga harus bisa,” ungkap Nasir.






