“Sekarang ini memang terasa ada peningkatan. Buktinya ikan yang saya jual ini, biasa rata – rata terjual sampai lima puluh kilogram setiap harinya,” cerita Suci.
Ditambahkan Suci, salah satu penyebab ikan yang dijualnya memancing banyak pesanan konsumen adalah karena ikan yang dijualnya adalah ikan yang diambil langsung dari nelayan dan diolah (diproses, dikeringkan, dan lainnya) langsung oleh dirinya dan beberapa karyawan. Sehingga untuk kesegaran ikan terjaga, juga konsumen mendapat jaminan bahwa ikan yang dijual terbebas dari bahan pengawet berbahaya.
Untuk harga ikan, dikatakan Suci masih cukup stabil dan masih terjangkau konsumen.
“Ya masih stabil. Memang yang di kisaran mahal ada dong. Seperti ikan tuna, juga beberapa ikan lain yang lebih spesifik atau dipesan khusus, itu memang ada peningkatan harga,” kata Suci.
Dari kalangan ibu – ibu juga menceritakan bahwa di keluarga mereka menu makanan berbahan ikan juga banyak disukai. Sehingga dalam seminggu bisa ada sampai empat atau lima hari makanannya berbahan ikan.
Dari keterangan Tanti Yosefa, salah seorang kaum ibu yang juga aktif di PKK, di rumahnya anak – anak suka dan terbiasa makan ikan.
“Untuk memasak dengan bahan ikan ini juga ndak terlalu sulit. Ya seperti masak bahan makanan lain lah ya. Kalau hanya untuk digoreng, kan simpel. Paling nanti perlu tambahan lain kalau masaknya dengan inovasi, maksudnya dipadukan dengan makanan lain,” cerita Tanti.
Cuma memang, untuk mendapatkan ikan laut segar di Sawahlunto menurut Tanti terasa agak sulit. Hal ini disebabkan jarak Sawahlunto dari Kota Padang, tempat penghasil ikan laut segar.
“Namun kalau untuk mendapatkan ikan air tawar biasa di Sawahlunto ini ya amanlah. Di pasar ada, atau kadang juga tetangga ada yang punya kolam ikan,” pungkas Tanti. (Yanto)






