LEDikan Tingkatkan Hasil Penangkapan Ikan Pelagis 5 Kali Lipat

Pesisir  Selatan, Poros Nusantara – BRSDM (Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan), Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui kegiatan Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan (INTAN), berhasil melakukan terobosan baru dengan membuat lampu penarik ikan yang dapat membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan 5 kali lipat dan menghemat biaya operasi penangkapan para nelayan yang  dinamakan  LEDikan.

Menurut  hasil uji coba  yang telah dilakukan oleh nelayan, LEDikan telah memberikan hasil tangkapan yang memuaskan, semula tangkapan nelayan hanya memperoleh 100 kg untuk bagan ukuran 8,5 x 8,5 meter sekali angkat, setelah adanya penggunaan LEDikan, hasil tangkapan yang diperoleh menjadi 500kg sekali angkat.

BACA JUGA  PANITIA PEREKRUTAN PERANGKAT DESA CIBUYUR UMUMKAN KELULUSAN

Awalnya, LEDikan berasal dari ide peneliti BRSDM Agus Cahyadi. Hal ini berangkat dari kesadaran profesi nelayan adalah profesi yang mulia dan menjanjikan sehingga BRSDM tergerak menciptakan nelayan-nelayan yang modern dengan menggunakan berbagai macam teknologi canggih untuk menangkap ikan pelagis. “Salah satunya yakni Light attractor LEDikan yang berfungsi untuk memikat ikan dengan menggunakan lampu LED (light-emitting diode) dengan desain dan spesifikasi khusus,” kata Sjarief Widjaja, Kepala BRSDM, dalam Focus Group Discussion (FGD) Aplikasi Teknologi Light-Atractor untuk Alat Bantu Penangkapan Ikan Pelagis, pada Selasa, 4 Desember 2018, di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelabuhan Perikanan Pantai Carocok Tarusan, Pesisir  Selatan, Sumatera Pesisir  Selatan Barat.

BACA JUGA  Kodam XVIII/Kasuari Kembali Gelar Serbuan Vaksinasi Bagi Masyarakat Manokwari

Syarief menjelaskan di Indonesia, penggunaan lampu sebagai alat bantu pengumpul ikan sudah dimanfaatkan sejak tahun 1950 – an. “Namun dalam perkembangannya, menunjukkan bahwa penggunaan lampu menjadi tidak terkendali dan memunculkan dampak dan masalah baru, yakni menangkap lebih banyak ikan muda yang belum matang gonad, sehingga menggangu aktivitas pemijahan dan reproduksi ikan pada musim berikutnya, serta terjadi peningkatan polusi dan emisi gas rumah kaca (peningkatan Carbon monoxide)/CO),” papar  Syarief.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *