Ia memberikan solusi berdasarkan faktor-faktor tersebut, yaitu hijrah. Artinya, “dari makanan yang haram ke halal. Berpakaian dari yang mengumbar aurat menjadi sesuai syariat. Hiburan yang mengandung edukasi, informasi dan tuntunan. Contohnya, banyak anggota dewan, bupati, gubernur, menteri yang ditangkap KPK. Apakah mereka tidak sholat? Shalat, jawab Bambang. Kalau mereka shalat. Dimana yang salah? Coba cek dari ketiga faktor tersebut,” imbuhnya.
Lalu, Bambang memberikan contoh ketika pada suatu hari Khalifah Umar bin Khatab menggendong bayi dari seorang Ibu di warung, lalu Ia mengambil roti secuil, dan diberikan kepada bayi tadi. Kemudian, Sang Khalifah membawanya ke depan Ka’bah. Di depan Ka’bah bayinya menangis dengan keras. Khalifah menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan roti itu. “Biarkan secuil tapi termasuk kategori mencuri,” ujarnya.
Lalu, Khalifah Umar kembali ke warung dan berkata kepada pemilik warung, saya tadi mengambil roti secuil, berapa yang harus dibayar? Lalu, pemilik warung mengatakan kepada khalifah, enggak usah bayar, untuk khalifah saja. Karena pemilik warung takut pada khalifah, akhirnya Ia membiarkan saja roti diambilnya sedikit. “Oh bukan begitu, jawab Sang Khalifah. “Saya mencari halalnya,” kata Khalifah.
Bambang kembali melanjutkan kisahnya, setelah dibayar roti itu dan dihalalkan. Lalu dibayi tadi bawa kembali ke Ka’bah dan ternyata bayi tampak hingar bingar. “Jadi, ada indikasi makanan yang tidak baik akan berpengaruh terhadap perilaku,” ujarnya.
Laporan : Windarto






