Menyinggung soal kegiatan seperti ini untuk menekan pengangguran, Paul Liyanto sependapat. Dirinya menekankan bahwa dengan pelatihan ini mereka bisa mandiri dan tidak perlu berharap mencari uang dengan menjadi TKI – TKW. Pasalnya, ke luar negeri itu mafianya begitu besar. Menjadi calon TKI – TKW sesungguhnya ada balai latihan tapi masih kalah dengan mafia yang bermain sehingga susah dikontrol kemudian problem besar lainnya tenaga yang keluar negeri pendidikan rendah, gampang ditipu. ” Saya kira mereka yang sudah dilatih ini dengan bergaul bersama dunia usaha mereka akan segera terserap. Mereka setelah selesai mengikuti kegiatan ini tinggal mereka bisa gunakan media, reklame, medsos, upload tergantung kreatif mereka sendiri “, ujarnya.
Dimintai tanggapannya soal hari Kartini, Paul Liyanto mengatakan, pendidikan non formal yang digalakan erat kaitannya dengan gender, mulai dari keterampilan masak memasak, pekerjaan rumah tangga, sampai pada tata rias, karena kaum perempuan lebih teliti dan skill yang cukup baik. Inipun menjadi modal untuk mengembangkan ekonomi keluarga karena perempuan bisa terlibat memproduksi. ” Sekarang pemerintah wajibkan 30 persen perempuan harus terlibat dibidang apa saja. Makanya Kartini masa kini tidak boleh khawatir soal lapangan kerja karena sangat terbuka. Tinggal sekarang kembali kepada orangnya mampu tidak bersaing dengan kaum laki – laki. Kita omong soal jangan ada diskriminasi tetapi perempuan sendiri harus bisa percaya diri. Harapan saya setelah keluar dari kegiatan ini jangan malu – malu. Jangan pulang dari kegiatan ini lalu tidur tapi mulai mencari teman, tetap percaya diri. Saya yakin bisa melakukan karena mereka punya keterampilan dan tentunya saya harapkan perbanyak lomba – lomba seperti ini agar mereka terus mengembangkan talentanya “, harap Paul.






