RSUD Rengasdengklok Disorot, Dugaan Pelayanan Tak Humanis dan Minim Klarifikasi Tuai Kritik

Porosnusantara.co.id | Karawang — Dugaan pelayanan yang dinilai tidak humanis di RSUD Rengasdengklok terhadap seorang pasien bernama Intania Putri (16), warga Kampung Pangakaran, Desa Tambaksumur, Kecamatan Tirtajaya, terus menjadi sorotan publik. Selain keluhan dari pihak keluarga pasien, sikap tertutup rumah sakit terhadap awak media juga menuai kritik tajam, Senin (18/5/2026).

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu malam, 16 Mei 2026, saat keluarga membawa Intania Putri ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Rengasdengklok dengan didampingi tenaga medis dari Puskesmas Tirtajaya. Namun, keluarga mengaku justru mendapat pertanyaan terkait alasan pasien dibawa melalui puskesmas dan bukan melalui Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

Dalam kondisi pasien membutuhkan penanganan cepat, pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa Intania ke Rumah Sakit Hastien Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok Utara. Menurut keluarga, pasien langsung mendapatkan tindakan medis setibanya di rumah sakit tersebut.

Untuk menjaga keberimbangan informasi, sejumlah awak media mendatangi RSUD Rengasdengklok pada Minggu, 17 Mei 2026, guna meminta klarifikasi terkait dugaan insiden tersebut. Kedatangan para jurnalis diterima oleh petugas keamanan rumah sakit dan diarahkan untuk kembali pada Senin, 18 Mei 2026, agar dapat bertemu dengan pihak yang berwenang memberikan keterangan resmi.

Namun, saat kembali mendatangi rumah sakit, awak media mengaku belum dapat bertemu dengan pihak manajemen. Pihak rumah sakit disebut berdalih seluruh jajaran sedang sibuk sehingga belum bisa memberikan penjelasan.

Padahal, para jurnalis menegaskan kedatangan mereka bertujuan menjalankan tugas jurnalistik dan memberikan ruang klarifikasi agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap berimbang.

Awak media bahkan memberikan kesempatan kepada pihak RSUD Rengasdengklok untuk menentukan waktu pertemuan sesuai kesiapan rumah sakit. Akan tetapi, hingga kini belum ada kepastian maupun pernyataan resmi terkait dugaan penolakan pasien tersebut.

Kondisi itu memunculkan kritik dari sejumlah awak media yang menilai rumah sakit kurang terbuka terhadap publik dan media sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial.

“Kami datang baik-baik untuk meminta klarifikasi agar berita tetap berimbang dan masyarakat mengetahui fakta sebenarnya. Kalau memang tidak ada masalah, seharusnya pihak rumah sakit terbuka memberikan penjelasan,” ujar salah satu awak media di lokasi.

Selain menyoroti dugaan pelayanan terhadap pasien, sejumlah pihak juga menilai komunikasi publik di lingkungan RSUD Rengasdengklok masih perlu dibenahi. Sikap tertutup terhadap media dinilai dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

Atas persoalan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang dan instansi terkait diminta turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh, baik terkait pelayanan medis, etika pelayanan, komunikasi publik, maupun profesionalisme jajaran rumah sakit.

Sejumlah pihak menilai pelayanan kesehatan tidak hanya menyangkut kemampuan medis, tetapi juga berkaitan dengan empati, tanggung jawab, serta keterbukaan informasi kepada masyarakat.

(Aan Aliyah)

Penulis: Aan AliyahEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *