Porosnusantara.co.id|Jakarta —Satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi babak baru perjalanan bangsa. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, pemerintahan ini berhasil menjaga tingkat kepuasan publik sebesar 71,8% (survei Poltracking Indonesia), menandakan stabilitas dukungan rakyat terhadap arah kepemimpinan nasional.
Pemerintahan Prabowo–Gibran berdiri di atas dua fondasi ideologis: kesadaran geopolitik Bung Karno dan doktrin ekonomi Sumitronomic — dua poros yang berupaya mengembalikan Indonesia ke jalur kemandirian dan kehormatan nasional.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai arah kebijakan luar negeri Prabowo memperlihatkan kebangkitan kembali semangat geopolitik Soekarnois. Dalam pernyataannya (19/10/2025), Hasto mengatakan bahwa Prabowo menghidupkan kembali visi “berdiri di atas kaki sendiri” dalam diplomasi dunia.
“PDI Perjuangan mengapresiasi arah kepemimpinan yang digerakkan oleh kesadaran geopolitik Bung Karno dalam mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih damai, adil, dan setara,” ujar Hasto.
“Prabowo mengangkat kembali kepemimpinan Indonesia di dunia internasional dengan mengambil prakarsa perdamaian, termasuk perjuangan kemerdekaan Palestina,” tambahnya.
Geopolitik Bung Karno: Indonesia sebagai Poros Dunia
Konsep geopolitik Bung Karno bukan sekadar posisi dalam peta, melainkan kesadaran historis bangsa maritim yang menjadi penghubung tiga samudra dan dua benua. Dalam kerangka itu, Indonesia tidak boleh menjadi objek dominasi kekuatan global, melainkan subjek aktif dalam menciptakan tatanan dunia yang berkeadilan.
Langkah Prabowo untuk memulihkan peran Indonesia di dunia internasional, terutama melalui diplomasi perdamaian dan solidaritas Global South, menjadi bentuk konkret dari geopolitik humanis tersebut. Indonesia kembali diposisikan sebagai jembatan peradaban Timur dan Barat, bukan sekadar pasar atau sekutu.






