Porosnusantara.co.id| Di ruang sidang etik yang hening, Kompol Cosmas Kaju Gae berdiri dengan sorot mata sayu. Putra NTT asal Kampung Laja, Golewa, Ngada itu kini duduk di kursi pesakitan, tanpa pangkat, tanpa jabatan. Hanya doa lirih yang ia panjatkan, menatap ke langit sambil berbisik dalam hati: “Tuhan tahu, aku tidak pernah berniat menghilangkan nyawa siapa pun.”
Sejak tahun 1996, Cosmas mengabdikan hidupnya di Korps Bhayangkara. Ia pernah ditembak di bahu kirinya saat bertugas di Poso, darahnya menetes di tanah pertiwi demi NKRI. Ia menjalankan tugas negara dengan sempurna, dengan dedikasi yang tak hanya diakui nasional, tetapi juga internasional. Perjuangannya adalah bukti bahwa ada harga yang mahal dibayar demi merah putih.
Namun sejarah panjang pengabdian itu runtuh dalam sekejap. Tragedi Agustus lalu di Jakarta mengubah segalanya. Seorang pengemudi ojol, Affan Kurniawan, meregang nyawa terlindas kendaraan taktis Brimob. Nama Cosmas langsung dikaitkan. Dari seorang komandan yang dihormati, ia kini dicap bersalah, bahkan dipecat dengan sanksi PTDH.
Di hadapan sidang, Cosmas sendiri sudah bersumpah tidak ada niat sedikit pun untuk merenggut nyawa. Belasungkawa ia sampaikan dengan tulus, hatinya hancur, jiwanya pilu. Tetapi siapa yang mau percaya? Yang terlihat hanya berita, yang terdengar hanya vonis. Ia berdiri sendiri menanggung luka, seakan semua pengabdian panjangnya tak pernah ada.
Inilah ironi yang menyayat hati. Jabatan bisa hilang seketika, nama bisa tercoreng, tetapi dedikasi dan pengorbanan seorang prajurit tidak boleh dilupakan. Cosmas mungkin pernah salah, namun ia juga pernah meneteskan darah demi negeri ini.
Dan jika sejarah terlalu cepat melupakan pengabdiannya, biarlah langit yang mencatat. Sebab darah yang pernah tertumpah di bumi pertiwi, doa yang pernah terucap dalam sunyi, dan air mata yang jatuh tanpa terlihat—semua itu adalah bukti bahwa Kompol Cosmas Kaju Gae telah mengabdi dengan hati, meski kini ia harus menanggung luka yang tak pernah ia niatkan.






