Jakarta, Poros Nusantara – Kekayaan laut Indonesia yang melimpah ruah dari Aceh hingga Tanah Papua belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Kebijakan pun sudah banyak dikeluarkan dalam usaha meningkat kesejahteraan para nelayan dan orang-orang terlibat dalam industri kelautan dan perikanan.
Dalam rangka menggali potensi kelautan secara optimal, BRSDM (Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan) sumber daya kelautan dan perikanan tengah berupaya pengembangan kapasitas SDM dan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan inovasi iptek kelautan dan perikanan. Demikian diungkapkan Kepala BRSDM Sjarief Widjaja, saat membuka Seminar Nasional Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan 2018 (SEMNAS SOSEK KP), Senin, 24 September 2018, di Jakarta.
SEMNAS SOSEK Kelautan dan perikanan tahun ini mengangkat, “Aktualisasi Kebijakan Berbasis Sains Untuk Mendukung Reformasi Keberlajutan Kelautan dan Perikanan Indonesia”. Seminar ini diselenggarakan berkat kerjasama Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP) dengan Indonesian Marine and Fisheries Socio – Economics Research Network (IMFISERN) dan Conservation Strategy Fund(CSF- Indonesia).
Menurut Syarief dalam tiga tahun terakhir Indonesia telah menunjukkan semangat nyata dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Dari dominasi kapal asing menjadi kekuatan kapal domestik, dari pembangunan konsentrasi di Pulau Jawa menjadi pembangunan merata dan prioritas pulau terluar dan dari perlakuan khusus pengusaha besar menjadi affirmative policy untuk nelayan tradisional & UMKM,” ucap Sjarief.
Lebih lanjut, Syarief memaparkan pencapaian reformasi kelautan dan perikanan yang dihasilkan dari kebijakan dan program pemerintah juga telah mengubah peta pelaku usaha perikanan dan menciptakan equal-level playing field dan menciptakan keberlanjutan usaha jangka panjang dengan menjaga keberlanjutan sumber daya laut yang ada saat ini.






