Munculnya wacana mengenai kuliah gratis ini sendiri tidak secara otomatis akan menghapus carut marutnya sistem administrasi dan komersialisasi dalam dunia pendidikan. Yang berubah kemungkinan besar cuma pada golongan masyarakat mana yang membayar, tetapi tidak pada sistem yang memberlakukan wacana tersebut. Sumber pendanaan digadang-gadang berasal dari APBN, menggenjot penerimaan negara melalui pajak, cukai, dan uang hasil korupsi, tentu prediksi mengenai keberlanjutannya sangat sulit ditebak karena mengikuti kemampuan fiscal dan kebijakan pemerintah.
Adopsi dari sitem Liberalisme – Sekuler menyebabkan pendidikan, terutama Pendidikan Tinggi (PT) harus menyesuaikan lulusan mereka dengan kebutuhan pasar, dalam hal ini, yang paling banyak menyerap output PT adalah dunia industri. Hal ini menjadikan pendidikan turun kasta menjadi sekedar alat pencetak mesin pekerja yang menghalalkan segala cara demi hasil instan. Generasi muda kita dicekoki dengan orientasi terhadap materi dan pasar kerja, bahwa poin utama adalah bagaimana memperoleh gelar mentereng dan nilai tinggi, mengesampingkan urgensi moral, agama, dan adab, sehingga lahirlah generasi pragmatis, sekuler, dan liberal.
Sistem tersebut juga juga sering menciptakan ketimpangan dalam pendidikan dan kesempatan kerja. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah sering sulit mengakses pendidikan yang berkualitas karena tingginya biaya untuk sekolah dan pendidikan berkualitas tersebut. Jika pendidikan berkualitas sulit didapatkan, maka biasanya akan linear dengan sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak karena kurangnya pendidikan dan keterampilan.
Dalam sistem Pendidikan Islam, negara yang memiliki kebutuhan untuk mencetak manusia berpendidikan yang berkualitas. Tujuan utamanya jelas, membentuk manusia berilmu dengan sahsiyah Islamiyah, menjadikan akidah sebagai fondasi utama, dengan indikator keberhasilannya adalah menciptakan manusia yang memiliki integritas moral, adab, dan pemahaman syariat. Ilmu bukan sekedar alat pencari kerja tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Pendidikan Islam menyatukan dimensi ruhiyyah, fikriyyah, dan amaliyyah.






