513 Warga Mengungsi
Bencana juga menyebabkan sekitar 513 warga harus mengungsi. Mereka tersebar di sejumlah titik, yakni 10 orang di Rumah Pabrik Tahu, 15 orang di Petshop, dan 488 orang lainnya berada di pengungsian mandiri.
Penanganan pengungsi mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, makanan, air bersih, layanan kesehatan serta perlindungan bagi warga terdampak.
Sejumlah pejabat pemerintah juga melakukan peninjauan ke lokasi. Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat datang pada 22 September, disusul Menko PMK bersama Kepala BNPB dan Sestama BNPB pada 24 September.
Sehari kemudian, Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau pengungsian dan kawasan terdampak.
Menteri Dalam Negeri juga mendatangi posko dan lokasi terdampak pada 30 September, kemudian dilanjutkan kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri pada 1 Oktober 2026.
Kompleks Perkantoran Pemkab Solok Ikut Rusak
Dampak bencana juga mengenai pusat pemerintahan Kabupaten Solok. Sejumlah bangunan pemerintahan mengalami kerusakan berat, sedang hingga ringan.
Bangunan yang mengalami kerusakan berat antara lain Gedung Kantor Permanen Sekretariat DPRD, Gedung Kantor Dinas Pariwisata, Gedung Kantor Dinas PUPR, Gedung Kantor DPMN dan Gedung Pos Jaga Satpol PP.
Sementara kerusakan ringan terjadi pada sejumlah fasilitas, termasuk kantor DPRD, Gedung Pertemuan DPRD, Inspektorat, BKPSDM, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Bapelitbang dan Bapenda.
Adapun kerusakan sedang tercatat pada Gedung UPTD Laboratorium Dinas PUPR dan Gedung Pos Jaga Damkar.
Meski sejumlah fasilitas pemerintahan terdampak, pelayanan kepada masyarakat tetap harus berjalan selama masa penanganan bencana.
Rumah, Sawah dan Infrastruktur Terdampak
Dampak bencana juga meluas ke permukiman dan lahan produktif warga.
Data penanganan mencatat sebanyak 19 rumah mengalami rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, 33 rumah rusak ringan, 13 rumah terendam, dan 10 rumah berada dalam kondisi rawan atau berisiko.
Selain permukiman, sekitar 42 hektare sawah dan 15 hektare lahan kering turut terdampak.
Sebanyak lima ruas jalan mengalami kerusakan dan dua jembatan terdampak. Sementara kendaraan yang terdampak terdiri dari tujuh kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua.
Kondisi tersebut membuat penanganan tidak hanya berfokus pada masa tanggap darurat, tetapi juga membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi.






