Tidak hanya menganalisis pada probabilitas kegagalan, pendekatan aktuaria juga dapat membantu perusahaan dalam mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dari keputusan pemeliharaan dan penggantian aset. Dalam PkM tersebut, tim UPER turut menyiapkan modul yang dapat menjadi acuan bagi perusahaan dalam menganalisis risiko keuangan perusahaan.
“Misalnya, perusahaan memiliki mesin lama yang semakin sering membutuhkan perbaikan. Mempertahankannya berarti terus membayar biaya perawatan, sementara membeli mesin baru membutuhkan investasi awal yang besar, tetapi bisa menghemat biaya operasional. Model dynamic programming membantu membandingkan kedua pilihan tersebut selama beberapa tahun ke depan, termasuk memperhitungkan harga jual mesin lama. Dengan begitu, perusahaan dapat menilai apakah lebih menguntungkan mengganti mesin sekarang atau tetap menggunakannya untuk sementara,” tambah Dr. Tasmi.
Kolaborasi UPER dengan industri melalui PkM menjadi ruang penguatan dalam memahami persoalan manajemen risiko yang dihadapi industri energi secara langsung, sekaligus mengidentifikasi ruang penerapan ilmu aktuaria untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan bahwa keterhubungan antara keilmuan dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di bidang energi.
“Universitas Pertamina memiliki ekosistem keilmuan yang dekat dengan sektor energi. Karena itu, pengembangan Sains Aktuaria melalui peminatan Asuransi Energi dan Manajemen Risiko, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kompetensi aktuaria secara umum, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi,” ujar Prof. Ichsan.






