Bangsa yang kehilangan jati diri akan mudah kehilangan arah. Karena itu, pendidikan karakter dan pemahaman kebangsaan harus berjalan bersama dengan kemajuan teknologi dan pembangunan ekonomi.
Eko Galgendu: Pemimpin Harus Berani Berkorban
Tokoh yang mempersembahkan Kitab MA HA IS MA YA, Sri Eko Sriyanto Galgendu, menegaskan gagasan utama yang diangkat adalah:
> “Kepemimpinan bukan kekuasaan, tetapi pengabdian dan pengorbanan.”
Menurut Eko, terdapat empat pilar kepemimpinan sejati.
Pertama, karakter dan keberanian. Pemimpin tidak boleh hanya mengejar jabatan, fasilitas dan kehormatan. Ia harus berani berdiri ketika kepentingan rakyat membutuhkan pembelaan.
Kedua, kehormatan tanah air. Kekayaan alam Indonesia bukan sekadar komoditas. Bumi, air dan kekayaan Nusantara merupakan amanah yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.
Ketiga, empati sejati. Pemimpin harus mampu merasakan penderitaan rakyat.
Bukan hanya datang ketika membutuhkan suara rakyat, lalu menghilang ketika rakyat menghadapi kesulitan.
Keempat, semangat progresif. Kemajuan bangsa harus dibangun melalui kerja nyata, kejujuran dan kebersamaan. Kemajuan tidak boleh hanya dinikmati sebagian kelompok, sementara sebagian masyarakat lainnya tertinggal.
Rakyat Tidak Butuh Pemimpin yang Hanya Pandai Berpidato
Gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut pada akhirnya bermuara pada satu persoalan mendasar: apa arti kekuasaan jika tidak menghasilkan kesejahteraan dan keadilan sosial?
Rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mau turun melihat kenyataan, mendengar keluhan, memahami kesulitan dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas.
Kepemimpinan diuji bukan ketika keadaan nyaman. Kepemimpinan diuji ketika rakyat sedang sulit.






