Agama  

Kepemimpinan Bukan Kekuasaan, Tapi Pengabdian: Jangan Sampai Pemimpin Jauh dari Rakyat

 
 

Menurut Yudhi, persoalan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Organisasi masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan seluruh elemen bangsa juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar kehidupan sosial tidak kehilangan nilai moral.

Sebab, bangsa tidak akan kuat hanya karena memiliki gedung pemerintahan yang megah, ekonomi yang bergerak atau teknologi yang semakin maju. Bangsa membutuhkan manusia yang masih memiliki rasa malu ketika mengambil hak orang lain dan masih memiliki keberanian ketika harus membela kepentingan rakyat.

 

Jangan Bicara Mengubah Dunia Kalau Diri Sendiri Belum Terpimpin

Nada serupa disampaikan Yusuf Mujiono.

Menurutnya, kepemimpinan paling awal bukanlah memimpin negara, organisasi atau masyarakat, melainkan memimpin diri sendiri.

> “Bagaimana bisa memimpin orang lain ketika seseorang tidak memiliki landasan etika dan moral. Jangan mengatakan mengubah dunia, sedang memimpin diri sendiri saja tidak mampu.”

Pesan ini menjadi penting karena persoalan bangsa tidak selalu bermula dari sistem yang buruk. Dalam banyak keadaan, persoalan juga lahir dari manusia yang menjalankan sistem tersebut.

Ketika jabatan lebih penting daripada amanah, kepentingan pribadi lebih besar daripada kepentingan umum, dan kekuasaan tidak lagi disertai tanggung jawab, maka yang rusak bukan hanya kepemimpinan, tetapi juga kepercayaan rakyat.

Romo Narjo: Bangsa Harus Kembali kepada Jati Dirinya

Sementara Romo Narjo menyoroti pentingnya pemahaman mengenai Ketuhanan dan Pancasila.

Menurutnya, generasi muda perlu memahami Pancasila bukan sekadar sebagai hafalan, melainkan sebagai nilai yang harus hidup dalam perilaku sehari-hari.

Ia juga menyampaikan rencana meluncurkan buku mengenai Pancasila dan generasi muda.

 
Penulis: Supriyadi
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *