Ny. Kurniati memahami bahwa latihan berat dengan disiplin ketat dan intensitas fisik tinggi selama 17 hari masa karantina merupakan bagian dari proses pembentukan mental dan karakter. Ia menegaskan bahwa Paskibraka bukan hanya soal baris-berbaris, tetapi juga tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketahanan diri.
“Latihan ini memang berat, disiplin yang diterapkan juga keras dan intensitas fisiknya tinggi. Tetapi semua itu adalah proses untuk membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih disiplin,” tuturnya.
Lebih jauh, ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama masa karantina tidak berhenti setelah tugas pengibaran bendera selesai. Menurutnya, pengalaman ini harus menjadi bekal hidup yang membentuk karakter kuat di masa depan.
“Anak-anak ini bukan hanya sedang dilatih menjadi Paskibraka. Mereka sedang ditempa untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Mudah-mudahan apa yang mereka jalani selama karantina ini menjadi bekal dalam menentukan pola hidup dan prinsip hidup ke depan,” ungkapnya.
Bagi Ny. Kurniati, setiap tetes keringat, rasa lelah, dan disiplin ketat yang dijalani para siswa hari ini adalah bagian dari perjalanan berharga. Sementara bagi Solok Sehat, kehadiran 60 calon Paskibraka pagi itu menjadi warna tersendiri—pertemuan antara semangat olahraga, ketulusan seorang ibu, dan perjuangan generasi muda Kabupaten Solok menuju tugas kebangsaan pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI.






