“Tidak ada pertentangan antara agama dan kebudayaan. Justru terjadi dialog kebudayaan. Esensinya tetap tauhid,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, ia mengajak LSB PP Muhammadiyah memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan melalui berbagai program pengembangan seni, budaya, film, museum, hingga Dana Indonesiana.
“Mudah-mudahan ke depan kita bisa bekerja sama untuk memajukan kebudayaan nasional,” pungkasnya.
Rakernas LSB PP Muhammadiyah menjadi forum strategis untuk memperkuat peran seni dan budaya sebagai bagian dari dakwah berkemajuan sekaligus membangun ekosistem budaya yang kreatif, inklusif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. Seni dan budaya dinilai bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan instrumen penting dalam membangun peradaban, memperkuat dakwah, dan memajukan kebudayaan nasional. Pandangan itu mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan, seni budaya memiliki posisi strategis dalam dakwah kultural Muhammadiyah. Menurutnya, seni mampu menyentuh dimensi rasa dan jiwa manusia sehingga menjadi media yang inklusif, melampaui batas agama, suku, ras, maupun golongan.
“Seni dan budaya menjadi bagian penting dari peradaban bangsa. Ketika kita mengembangkan seni budaya, sesungguhnya kita sedang membangun kebudayaan yang pada akhirnya melahirkan peradaban umat manusia,” ujar Haedar.
Ia menjelaskan, sejak konsep dakwah kultural diperkenalkan Muhammadiyah pada 2002, organisasi tersebut berupaya mengubah cara pandang terhadap seni budaya agar dipahami sebagai media dakwah yang mencerahkan. Seni, menurutnya, mampu menanamkan nilai kemanusiaan, membangkitkan kehalusan rasa, sekaligus mendekatkan manusia kepada Tuhan.






