“Jakarta sebagai kota global harus menjadi ruang kolaborasi dunia, baik dalam bidang bisnis maupun pertukaran budaya. Namun keberhasilan itu tidak hanya bergantung pada pemerintah, melainkan juga pada kesiapan masyarakat yang diberdayakan secara aktif,” katanya.
Menghadapi tantangan globalisasi, Bamus Betawi menilai digitalisasi menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan budaya. Generasi muda perlu diperkenalkan pada sejarah, kondisi kekinian, serta arah perkembangan budaya di masa depan agar tidak terputus dari akar tradisinya.
“Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, budaya Betawi harus mampu beradaptasi dengan era digital dan konsep Society 5.0. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan nostalgia, tetapi harus dikemas sesuai perkembangan zaman agar tetap relevan bagi generasi muda,” jelasnya.
Selain isu kebudayaan, Bamus Betawi juga memberikan perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup. Salah satu rekomendasi yang mengemuka dalam raker adalah perlunya regulasi dan program konkret terkait pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk penguatan bank sampah serta edukasi pemilahan sampah sejak dini.
Suaeb menilai pemerintah perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk program pemberdayaan lingkungan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di sisi lain, Bamus Betawi berharap organisasi yang memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah (Perda) tersebut dapat semakin dilibatkan dalam berbagai program pemajuan kebudayaan, baik melalui dukungan anggaran dinas maupun hibah.
“Kami berharap Bamus Betawi diberikan ruang yang lebih luas dalam perlindungan, pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan budaya Betawi. Usulan seperti pembangunan gedung kesenian Betawi hingga pelestarian warisan budaya berupa perahu kolek perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya.






