Ia menilai dukungan tersebut membuat dirinya merasa memiliki keluarga besar dan banyak saudara yang siap memberikan semangat dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Kami tidak pernah mencari musuh. Saya orang kecil, tetapi dalam perjalanan hidup saya juga pernah menjadi korban berbagai persoalan. Karena itu saya sangat menghargai kehadiran teman-teman yang datang memberikan dukungan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Bahar juga menyinggung buku yang ditulisnya berjudul Rapot Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menurutnya, buku tersebut merupakan bentuk kritik terhadap kondisi reformasi di tubuh Polri.
Meski demikian, Ahmad Bahar tetap menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kepolisian, khususnya Kapolres Metro Depok, Kapolda Metro Jaya, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dinilai telah memberikan perhatian terhadap peristiwa yang dialaminya.
“Saya tetap berterima kasih kepada Kapolres Depok, Kapolda Metro Jaya, juga kepada Pak Listyo Sigit yang telah mendengar adanya peristiwa ini. Walaupun saya pernah memberikan rapot merah melalui buku saya, tetapi tetap ada perhatian dari pihak kepolisian,” katanya.
Ia berharap proses hukum yang sedang berjalan dapat berlangsung secara profesional dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menutup pernyataannya, Sapto Wibowo mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan penyelesaian secara kekeluargaan dan musyawarah.
“Pesan saya, selama masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan, itu yang terbaik. Negara kita adalah negara yang menjunjung musyawarah mufakat dan negara hukum. Semua pihak harus menjunjung tinggi prinsip persamaan di hadapan hukum.
Negara kita bukan negara koboi, sehingga segala persoalan harus diselesaikan melalui jalur hukum dan cara-cara yang baik,” tegas Sapto Wibowo.






