“Ini menjadi ruang konsolidasi gagasan, sekaligus bahan refleksi atas berbagai program strategis nasional yang berdampak langsung pada petani,” ujarnya.
Salah satu penulis, Saturnino M. Borras Jr., menekankan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari universitas, tetapi juga dari pengalaman kolektif komunitas petani, masyarakat adat, dan gerakan sosial.
“Tidak ada hierarki nilai antara pengetahuan akademik dan pengetahuan gerakan sosial. Keduanya sama-sama penting untuk mendorong perubahan sosial,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ben White yang menyoroti persoalan generasi muda pedesaan. Ia mengingatkan bahwa banyak anak muda desa berada dalam kondisi “tidak bertanah terselubung”, sehingga perlu didengar aspirasinya secara langsung.
Ketua Umum SPI, Henry Saragih, menilai ketiga buku ini dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat luas untuk memahami dinamika dan sejarah perjuangan agraria lintas negara.
“Buku-buku ini membantu pembaca memahami bagaimana gerakan petani tumbuh dan bersatu secara internasional,” ujarnya.
Peluncuran ini menjadi ruang temu antara akademisi dan gerakan rakyat, sekaligus menandai langkah penting dalam memperluas akses literatur agraria bagi petani, masyarakat desa, masyarakat pesisir, dan






