“Di Maluku, mahasiswa dan aktivis yang bersuara soal korupsi sering dibungkam. Ini kejahatan terhadap demokrasi. Negara seolah menutup mata,” tandasnya.
Fredi juga menegaskan dukungannya terhadap BEM Nusantara Maluku yang sebelumnya mendesak Jaksa Agung menindaklanjuti laporan dugaan korupsi Bupati Kepulauan Aru. Ia menyebut gerakan mahasiswa hari ini adalah ujung tombak rakyat dalam melawan mafia hukum yang membusuk di tubuh institusi negara.
“Kalau mahasiswa diam, maka negeri ini akan terus dipimpin oleh koruptor dan dijaga oleh penegak hukum yang bisa dibeli,” ujarnya dengan nada getir.
Ia menutup pernyataannya dengan desakan keras: agar Jaksa Agung menggunakan momentum kunjungan ke Ambon untuk membersihkan internal lembaganya sendiri.
“Kalau Jaksa Agung sungguh ingin menegakkan hukum, mulailah dari rumah sendiri. Bersihkan Kejati Maluku dari oknum yang menjual keadilan dengan harga murah,” tegas Fredi.
Kehadiran Jaksa Agung di Ambon, menurutnya, menjadi ujian moral: apakah hukum masih berpihak pada rakyat, atau telah sepenuhnya tunduk pada kepentingan penguasa dan pemodal.(Axnes).






