Sungguh tragis, seorang komedian yang sepanjang hidupnya menjual tawa, kini menjadi bahan tawa getir itu sendiri. Maafnya hanyalah bayangan, sebuah refleksi ironis bahwa di negeri ini, maaf kadang hanya lahir ketika palu rakyat sudah menghantam keras.
Ekspresinya jelas, mata sayu, pipi jatuh, mulut separuh terbuka, seperti aktor yang tahu panggungnya akan dirampas, namun tidak mampu keluar dari naskah. Ironinya, justru setelah ia minta maaf, lakon itu berubah jadi adegan paling absurd, rakyat benar-benar membawa pulang kulkasnya.
Di sinilah filsafat pahit itu menancap, maaf yang datang terlambat bukanlah penyembuh luka, melainkan garam yang ditaburkan ke atasnya. Air mata Eko hanyalah hujan buatan di tengah kobaran api amarah rakyat, sebuah tragedi yang bahkan wayang pun malu untuk melakoninya.
Who is the next? Sejumlah anggota Dewan yang melukai hati rakyat diumbar alamat lengkap rumahnya. Kalian bisa cek sendiri. Banyak di antaranya sudah mengosongkan rumah, menyelamatkan aset berharganya, sebelum rakyat merampas. Ada yang kabur ke kampung halamannya. Ada juga ke luar negeri. Bahkan, ada rumah menteri yang suka ngomong seenaknya ke publik, juga diumbar alamat rumahnya. Mereka sah menjadi buronan rakyat. Berharap pada aparat polisi, mereka sedang disibukkan menghalau demontrans. Definisi perampasan aset para koruptor sedang ditutorialkan oleh rakyat sendiri. (NG)






