Agar Tidak Salah Persepsi, Penting Membangun Komunikasi dengan Lingkungan

Dokumentasi Pewarna
Dokumentasi Pewarna

Porosnusantara.co.id-Jakarta – Keberagaman masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, adat, budaya, dan agama membutuhkan sikap saling melengkapi agar persatuan tetap terjaga. Rasa saling pengertian tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik kehidupan bermasyarakat. Hal ini disampaikan Yohanes Nur Wahyu dalam sebuah acara yang digelar oleh Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna).

Menurut Yohanes, salah satu kunci menjaga harmoni sosial adalah komunikasi yang jujur dan terbuka. Ia mencontohkan kasus di Teluk Naga, Tangerang, yang sempat menimbulkan gesekan sosial. “Sebenarnya bukan persoalan agama, melainkan komunikasi yang tidak nyambung. Informasi awalnya untuk kantor yayasan, tetapi kemudian digunakan sebagai rumah ibadah. Kalau sejak awal disampaikan terbuka, masyarakat pasti lebih mudah memahami,” jelasnya.

Yohanes menegaskan, mendirikan rumah ibadah pada dasarnya sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. Aturan itu berlaku bagi semua agama, bukan hanya gereja, tetapi juga masjid, vihara, dan rumah ibadah lainnya. “Selama ada dukungan minimal 60 orang jemaat atau jamaah, maka pendirian rumah ibadah dapat diproses sesuai ketentuan. Jadi jangan melihat aturan ini sebagai hambatan, melainkan panduan agar semua berjalan tertib,” ujarnya.

ohanes Nur Wahyu

Ia menambahkan, persoalan akan lebih mudah diatasi jika komunikasi dibangun sejak awal. “Kalau mau mendirikan gereja, katakan dari awal, ‘saya beli tanah ini untuk gereja.’ Meskipun ada tantangan, setidaknya masyarakat paham dan prosesnya lebih enak. Sama halnya kalau kita mau renovasi rumah, pasti memberitahu RT dulu agar lingkungan siap dengan aktivitas pembangunan,” tutur Yohanes.

Dalam kesempatan itu, Yohanes juga mengapresiasi langkah Pewarna yang mengangkat isu toleransi. Baginya, pewarta memiliki peran penting untuk menghadirkan berita yang baik dan membangun. “Puasa seorang wartawan adalah mewartakan hal yang benar-benar baik. Jangan hanya mencari bad news, tetapi sampaikan juga berita baik yang menguatkan masyarakat,” pesannya.

Ia berharap ke depan Pewarna bisa lebih masif dalam menyebarkan informasi positif. “Tidak hanya di internal, tapi juga keluar agar publik tahu bahwa masyarakat Banten, Tangerang, bahkan Indonesia pada umumnya, sudah hidup dalam toleransi. Bukti nyata sudah ada sejak dulu, seperti berdirinya gereja di dekat Masjid Agung. Itu menunjukkan keterbukaan yang harus terus dirawat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *