Saya menduga bahwa ormas-ormas masa kini lebih suka menyebut dirinya sebagai LSM disebabkan oleh dua hal. Pertama, ormas-ormas masa kini kesulitan dalam merumuskan ideologi yang dianutnya. Dan tidak begitu suka berafiliasi dengan partai-partai politik yang ada. Kedua, ormas-ormas masa kini ingin dipandang sebagai kaum intelek pro-rakyat sebagaimana LSM pada masa Orde Baru.
Pertanyaannya kini adalah: Apakah organisasi-organisasi yang muncul pasca Orde Baru yang menyebut dirinya sebagai LSM sungguh-sungguh mengambil peran untuk menangani hal-hal YANG TIDAK DIGARAP ORANG NEGARA atau menangani PERSOALAN-PERSOALAN YANG JUSTRU DITIMBULKAN OLEH NEGARA?
Pada titik ini kita perlu RAGU! Sebab, LSM-LSM yang berwajah ormas itu, yang marak pasca Orde Baru lebih banyak memfungsikan diri sebagai Cheerleaders (pemandu sorak) bagi sosok tertentu yang sedang mengincar jabatan-jabatan publik melalui pemilihan umum.
Menjadi cheerleaders (pemandu sorak) saja sudah menjadi suatu persoalan, sebab tidak terlibat langsung dengan apa yang hendak dikerjakan oleh sang kandidat. Permasalahan menjadi makin pelik ketika yang di-pandusorak-i adalah sosok tertentu tanpa garis ideologis yang jelas. Mendukung sosok tertentu tanpa garis ideologis yang jelas adalah langkah awal untuk menghantar SEORANG TIRAN KE TAMPUK KEKUASAAN. Pada titik ini kita segera melihat betapa LSM masa kini sangat berpotensi MENGUBUR DEMOKRASI dan MENDIRIKAN TIRANI di negeri ini: yakni ketika LSM hanya berperan sebagai cheerleaders bagi SOSOK YANG SEKEDAR HAUS KUASA,-






