Maka itu, slogan G20 yakni Recover Together, Recover Stronger, menjadi sangat tepat dan lebih bermakna.
Dengan slogan itu, Indonesia yang memegang presidensi mendorong semua negara untuk bekerja sama mencapai pemulihan dunia yang lebih kuat dan berkelanjutan di tengah perekonomian dunia yang masih terkena dampak pandemik Covid-19 ditambah akibat invasi militer Rusia ke Ukraina. Tidak ada cara dan jalan lain dalam proses pemulihan perekonomian dunia kecuali lewat tindakan kolektif, yang sayangnya sekarang ini—kerja sama secara global—sedang menghadapi tantangan berat.
Kata Menlu Retno Marsudi, sejak awal Indonesia sudah bekonsentrasi bagaimana G20 dapat menghasilkan kerja sama konkret. Sebab, pandemi covid-19 mengungkap keterbatasan WHO dan keengganan atau ketidakmampuan negara-negara maju bahkan kaya untuk menanggapi krisis yang sebenarnya memiliki banyak alasan untuk diantisipasi. Akibatnya, sekitar 15 hingga 18 juta orang di seluruh dunia sejauh ini meninggal.
Suatu “Test-Case”
Dunia yang retak oleh perang, guncangan harga komoditas, kemungkinan resesi besar, tekanan pasar keuangan, dan kemunduran menuju deglobalisasi, dan krisis kesehatan yang berkepanjangan yang memicu atau mempercepat banyak masalah tersebut, menjadi tantangan besar dan berat bagi G20.
Karena itu, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa KTT G20 yang akan digelar di Bali, pada 15-16 November mendatang, akan menjadi semacam test case apakah para pemimpin besar mampu bekerja sama dan bekerja bersama untuk dunia.
Indonesia, memang, selama ini dikenal sebagai “bridge builder”, sehingga trust, kepercayaan dunia dan G20 pada Indonesia sudah ada. Karena itu, diharapkan bahwa KTT G20 di Bali akan menorehkan catatan besar dan penting bagi penyelamatan dunia yang sekarang ini kalau kita melihat gambaran geopolitik di antara kekuatan-kekuatan besar, semakin gelap.






