BMKG  

BMKG : ANCAMAN TERBARU DARI FEMOMENA LA NINA “TRIPLE – DIP”

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat 14/10/2022 dalam acara Mini Symposium 17th Annual Indonesia – U.S. BMKG – NOAA Partnership Workshop yang dilaksanakan secara virtual mengungkapkan adanya gejolak fenomena cuaca La Nina yang di namakan “triple-dip” yang sudah berlangsung sedari pertengahan 2020, 2022 dan berkemungkinan akan berlanjut pada tahun 2023.

Perlu diketahui La Nina merupakan fenomena mendinginnya suhu permukaan laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di bawah kondisi normalnya, hal ini akan berpengaruh kepada cuaca di Indonesia, disebabkan menghangatnya daerah perairan Indonesia menyebabkan pertumbuhan awan-awan.

“Triple-dip La Nina adalah fenomena unik. Masyarakat dan pemerintah pusat hingga daerah perlu mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, bandang, angin kencang, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan lain sebagainya,” tutur Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Sabtu (15/10/2022).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga menambahkan motif cuaca La Nina merupakan salah satu dari ke tiga fase El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang adalah suhu permukaan laut dan arah angin di Pasifik dan dapat beralih antara fase hangat.

Ia (Dwikorita) juga menegaskan dampak lain dari curah hujan yang meningkat pada beberapa waktu ini dalam pertemuan virtual tersebut.

“Yang perlu juga diwaspadai adalah penyakit yang biasa muncul di musim hujan, mulai dari diare, demam berdarah, Leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan lain sebagainya. Semua harus bersiap,” tegas Dwikorita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *