“Untuk memastikan respons yang memadai terhadap peringatan dini bencana alam, Kementerian PUPR telah menyiapkan gugus tugas untuk meningkatkan bendungan menambah kapasitas intake dan menyediakan pintu tambahan untuk memungkinkan pelepasan air bendungan lebih sehingga terdapat ruang untuk menyimpan air hujan yang datang,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.
Di samping itu, Menteri Basuki mengatakan untuk mencapai ketahanan air, pangan dan energi, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PUPR membangun 61 bendungan di mana 29 di antaranya sudah selesai dibangun. Penyelesaian 61 bendungan ini akan menambah air untuk sistem irigrasi premium dari 11% menjadi 20%.
“Kementerian PUPR juga melakukan revitalisasi 500 waduk dan danau, merehabilitasi 2 juta hektare sistem irigasi dan membangun 500 hektare sistem irigasi baru,” ujar Menteri Basuki.

Di samping itu, untuk menghadapi perubahan iklim Indonesia juga memperkuat tanggung jawab untuk membuat kota yang lebih layak huni. Kementerian PUPR telah membangun fasilitas perlindungan banjir, ruang terbuka hijau dan biru dan menerapkan kualitas yang lebih baik untuk penyediaan air dan sanitasi.
“Kami menargetkan akses air minum aman 100% dan akses sanitasi layak 90%. Dengan mencapai target tersebut kami akan menurunkan kasus stunting (gagal tumbuh kembang pada batita) dan kemiskinan secara nasional,” ungkap Menteri Basuki.
Menteri Basuki berharap melalui ajang Asia-Pacific Water Summit 2022 ini akan dihasilkan ide-ide baru, identifikasi dan menguraikan inisiatif baru yang diperlukan dan mempromosikan aksi kolaboratif untuk kerjasama penyelesaian masalah air di skala lokal, nasional dan global dengan lebih baik.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Perdana Menteri Tuvalu Kausea Natano,Perdana Menteri Laos Phankham Viphavanh, Deputi aperdana Menteri Bidang Investasi dan Perdagangan Luar Negeri Uszbektistan Sardor Umurzakov serta 13 Head of State lainnya yang hadir secara online dan pre-recorded message.






