Di samping itu, sosialisasi dilaksanakan bertujuan untuk memberikan pandangan baru bagi masyarakat bahwa biji karet yang menjadi potensi besar di Desa Babat akan memiliki nilai jual lebih apabila masyarakat mau tergerak untuk memanfaatkannya, seperti mengolah menjadi tempe.
Sedangkan, menurut Alifah Nur Aqrimah mengatakan, tempe adalah makanan yang akrab dengan keseharian masyarakat, hal ini kemudian dipadukan dengan biji karet yang mengandung 31,6% karbohidrat, 15,6% protein, 40,9% lemak dan sisanya adalah mineral dan asam sianida.
Untuk asam sianida ini, lanjut Alifah, perlu dihilangkan dengan cara perendaman selama 24 jam dan perebusan selama 90 menit, asam sianida mempunyai sifat mudah larut dan mudah menguap sehingga saat perendaman akan terbuang bersama air. Sedangkan proses perebusan zat linamerase dan asam sianida akan terakumulasi.
“Tempe dari biji karet lebih lembut daripada tempe kedelai, tidak cepat menjadi busuk dan dapat disimpan selama 2 minggu di dalam lemari es,” terang Alifah.
Sementara itu dalam poses Pembuatan Tempe dari Biji Karet, rekan lain yakni Aji Nur Wijaksono menjelaskan sebagai berikut.
1. Menyiapkan 1 kg bijinya yang telah dicuci bersih. Selanjutnya, biji karet dibuang kulitnya dengan cara memecahkannya.
2. Setelah terpisah ari kulitnya, daging biji direndam selama 1 × 24 jam.
3. Setelah direndam, kemudian rebus selama 1 jam. Tiriskan dan biarkan hingga dingin, setelah dingin air rebusan dan bakal daun yang terdapat dalam biji dibuang.
4. Rendam kembali biji karet selama 3×24 jam lalu cuci dan dikukus ± 30 menit. Setelah dikukus selama 30 menit, air yang tersisa di dalam panci dibuang, kemudian. Dikuti dari media detikNews (*Erla)






