Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki Jadi Pembicara Acara Talkshow Di Kongres ke-2 Partai Nasdem

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjadi pembicara pada talkshow "Membangun Komunitas Petani, Peternak, Nelayan Cyber" pada acara Kongres ke-2 dan HUT ke-8 Partai Nasdem, Jakarta, Minggu (10/11/2019). Hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, founder 8 Villages Sanny Gadafi, dan founder Hara Imron Zuhri.

Porosnusantara.co.id, Jakarta – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan di era disrupsi sebenarnya bisa menjadi peluang untuk menggairahkan UMKM dan koperasi.

“Pertama, manfaatkan digitalisasi ini dengan membuat platform yang bisa memperluas pasar UMKM. Kedua, memberikan sentuhan teknologi produksi atas produk-produk UMKM. Dan ketiga, menyediakan fasilitas skim pembiayaan yang sesuai dengan karakeristik UMKM,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat menjadi pembicara pada talkshow “Membangun Komunitas Petani, Peternak, Nelayan Cyber” pada acara Kongres ke-2 dan HUT ke-8 Partai Nasdem, Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, founder 8 Villages Sanny Gadafi, dan founder Hara Imron Zuhri.

Menurut Teten untuk bisa mengakses pembiayaan khususnya dari perbankan, para UMKM atau kelompok tani itu bisa tergabung dalam wadah koperasi sehingga memiliki badan hukum, yang memudahkan lembaga pembiayaan seperti perbankan untuk bisa membiayai. Jadi, koperasi menjadi agregasi dari UMKM semisal kelompok pertanian, peternakan, perikanan, kuliner maupun kerajinan.

Kenapa harus agregasi? menurut Teten, hal itu karena rentang UMKM sangatlah luas dan rumit. Dengan jumlah 63 juta lebih dimana 98 persennya adalah usaha mikro, maka butuh kebijakan yang bisa menjangkau semua.

Teten memberi contoh, para petani di pulau Jawa yang kepemilikan lahannya rata-rata sempit atau dibawah 2 hektare, namun ditanami banyak komoditi.

Meskipun UMKM menyumbang 60 persen PDB, namun umumnya mereka belum masuk pada value chain (rantai produksi).

Karena itu, aplikasi-aplikasi digitalisasi menjadi sangat penting untuk menghubungkan antara petani, konsumen maupun investor. “Aplikasi menjadi penting agar ada agregasi dari para petani-petani kecil ini, karena bisa masuk dalam skala bisnis,” jelas Teten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *