Awal mula saya melakukan usaha ini, ketika saya dan teman – teman mengajukan diri ikut dalam progran Kementan untuk magang ke Jepang. Dimana dalam peraturannya harus bekerja dalam kelompok tani selama 2 tahun, sedangkan kami masih baru ikut. Maka kami mendirikan sebuah kelompok yang bernama ” bangkit dan membangkitkan ” yang mana dalam dalam bahasa Jepang disebut “Okiagaru”, agar sesuai juga dengan tujuan kita bergabung dalam magang ke Jepang. Sepulang dari Jepang, kami berkumpul dan memulai usaha ini, dengan saudara Yuki, dengan lahan seluas 2 hektar, dan menanam sayuran Jepang, dan pekerjaan ini sukses. Dimana hasil produksi kami dapat masuk ke AEON, dan Restauran Jepang, oleh sebab itu kami terpacu untuk mengembangkannya lagi, ucapnya pada media ini Minggu 15 Sept 2019, saat berkunjung ke markas nya di Cipanas.

Melihat peluang inilah, maka kami mengajak petani – petani muda untuk bergabung dalam komunitas Okiagaru ini, dan melatihnya serta menanamkan fashion bertani, dimulai dari membuat status di KTP sebagai petani. Agar lebih profesional dan mampu merubah imej akan petani itu. Komunitas ini sudah berada di berbagai tempat di Jawa barat ini, di Majalengka dalam pengawasan saudara Popey, yang juga mantan seorang pelaut, namun menemukan fashionnya dalam bertani, tambahnya.

Seiring dengan itu, pemerintah juga saat ini sedang giat – giatnya dengan program petani milenialnya, dan program – program ketahanan pangan serta tujuan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia tahun 2045, membuat kami semakin semangat untuk mengembangkan usaha kami dan menanamkan jiwa bertani pada anak – anak muda di wilayah kami ini. Coba bayangkan bila hasil panen petani langsung bisa masuk ke konsumen tanpa melalui cara – cara tradisional dulu, maka petani akan untung, walaupun hasil panennya tidak sukses 100 persen. Kalaupun panennya hanya 50 persen, namun bila bisa langsung ke konsumen maka masih untung petaninya. 






